Muqaddimah

Alhamdulillah Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita hambaNya berbagai kenikmatan yang mustahil dapat dihitung jumlahnya. Shalawat dan Salam Atas Nabi Muhammad SAW, semoga kita diakui menjadi ummatnya dan mendapat syafa'at di hari kiamat insyaAllah. Inilah sisi lain dari Jihad, jihad yang digambarkan Al Quran dengan dua cara "Bil-Amwal" dan "Bil-Anfus". Mendedikasikan Waktu, tenaga, pikiran dan perasaan untuk menjalankan Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah adalah bagian penting dari proses "Jihad" itu sendiri. Semoga Allah Meridho'i Niat dan Amal Perbuatan kita, tetap Istiqomah, Amanah seraya tidak melupakan Muhasabah di setiap detik dan kesempatan.
(Untuk Pendamping hidupku :Farida Shafwatun Nisa, dan Kedua Permata hatiku :Faiq Afiful Azam dan Wafa Zirwatul Husna)

Senin, 18 Februari 2013

PENDEKATAN SOSIOLOGI
TERHADAP STUDI ISLAM
Oleh : Nasruddin

A.    Pendahuluan
Secara sederhana sosiologi dapat diartikan sebagai ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan, serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berhubungan. Dengan ilmu ini suatu fenomena dapat dianalisa dengan menghadirkan faktor-faktor yang mendorong terjadinya hubungan tersebut, mobilitas sosial serta keyakinan-keyakinan yang mendasari terjadinya proses tersebut.
Selanjutnya sosiologi dapat dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama. Hal demikian dapat dimengerti, karena banyaknya bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan lengkap apabila menggunakan jasa dan bantuan sosiologi. Dalam agama Islam dapat di jumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa jadi penguasa Mesir. Sebagai contoh untuk menjawab mengapa dalam melaksanakan tugasnya, Musa harus dibantu oleh nabi Harun. Maka hal ini baru dapat dijawab dan sekaligus dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial. Tanpa ilmu sosial peristiwa-peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan sulit pula dipahami  maksudnya. Disinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama.
Beranjak dari hal di atas maka dalam buku ini akan membahas tentang pengertian sosiologi, subdisiplin sosiologi, pendekatan sosiologi, agama sebagai fenomena sosiologi, pendekatan sosiologi dalam tradisi intelektual Islam (Ibnu Khaldun), penulis dan karya utama dalam studi Islam dengan pendekatan sosiologis, masalah dan prospek pendekatan sosiologis, serta signifikansi dan kontribusi pendekatan sosiologis dalam studi Islam.


B.    Pengertian Sosiologi.
Secara etimologi, kata sosiologi berasal dari bahasa latin yang terdiri  dari kata “socius” yang berarti teman, dan “logos” yang berarti berkata atau berbicara tentang manusia yang berteman atau bermasyarakat. 
Secara terminologi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan-perubahan sosial.  Adapun objek sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antara manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Sedangkan tujuannya adalah meningkatkan daya kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya.
Sosiologi adalah kajian ilmiah tentang kehidupan sosial manusia yang berusaha mencari tahu tentang hakekat dan sebab-sebab dari berbagai pola pikir dan tindakan manusia yang teratur dapat berulang. Berbeda dengan psikologi yang memusatkan perhatiannya pada karakteristik pikiran dan tindakan orang perorangan, sosiologi hanya tertarik kepada pikiran dan tindakan yang dimun culkan seseorang sebagai anggota suatu kelompok atau masyarakat.   Namun perlu diingat, sosiologi adalah disiplin ilmu yang luas dan mencakup banyak hal, dan ada banyak jenis sosiologi yang mempelajari sesuatu yang berbeda dengan tujuan yang berbeda-beda pula.

C.    Sub-Disiplin Sosiologi
Beberapa sub-disiplin dalam sosiologi yaitu: krimonologi, sosiologi sejarah, geografi manusia, sosiologi industri, sosiologi politik, sosiologi pedesaan, sosiologi kota, dan sosiologi agama.  Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan satu persatu sebagai berikut :
Kriminologi adalah suatu kajian mengenai perkembangan aktivitas kejahatan dalam hubungannya dengan fungsi struktur institusi, dan metode mengendalikan penjahat dalam penangkapan, interogasi dan perawatan yang berikutnya.
Sosiologi sejarah adalah suatu cabang sosiologi yang menggunakan data sejarah sebagai dasar untuk membuat generalisasi ilmiah. Ia mementingkan pola atau bentuk hidup kejadian-kejadian yang telah terjadi dalam sejarah, bukannya menentukan tertib tarikh peristiwa sejarah yang seragam seperti yang dapat disimpulkan dari peristiwa sejarah yang lalu.
Geografi manusia (kadang-kadang dinamakan antropo-geografi) ialah suatu ilmu mengenai hubungan timbal balik manusia dengan alam lingkungan. Ia mempunyai dua prinsip pendekatan:
Pertama, pengaruh alam lingkungan seperti iklim, kedudukan tanah dan air yang terdapat dalam kehidupan sosial manusia, suatu pengaruh yang biasanya dianggap sebagai bukan penentu, tetapi sebagai suatu pembatasan terhadap batas-batas yang luas.
Kedua, pengaruh manusia terhadap alam lingkungannya. Ini termasuk dalam arti kata yang luas, semua perubahan yang dilakukan oleh manusia terhadap alam kebendaan, tetapi aktivitasnya lebih khusus seperti mengalirkan rawa-rawa atau mempertahankan terusan.
Sosiologi industri berhubungan dengan cara mendapatkan pengetahuan mengenai proses sosial yang terlibat dalam aktivitas industri, dan dengan organisasi industri sebagai sistem sosial. Ilmu ini mengkaji aspek institusi mengenai aktivitas industri, dan hubungan proses sosial dalam aktivitas industri kepada proses lain dalam masyarakat.
Sosiologi politik adalah suatu cabang sosiologi yang menganalisa proses politik dalam rangka bidang sosiologi, mengorientasikan pengamatannya khusus kepada dinamika tingkah laku politik, karena kajian ini dipengaruhi beberapa proses sosial, seperti kerjasama, persaingan, konflik, mobilitas sosial, pembentukan pendapat umum, peralihan kekuasaan beberapa kelompok, dan semua proses yang terlibat mempengaruhi tingkah laku politik.
Sosiologi pedesaan ialah kajian mengenai penduduk desa dalam hubungan dengan kelompoknya. Ilmu ini menggunakan metode dan prinsip sosiologi umum dan menggunakannya dalam kajian mengenai penduduk desa, sekitar ciri-ciri penduduk desa, organisasi sosial desa, dan berbagai lembaga dan asosiasi yang berfungsi di dalam kehidupan sosial desa, proses sosial yang penting yang terdapat dalam kehidupan di desa, pengaruh perubahan sosial atas organisasi sosial desa, dan beberapa masalah yang dihadapi oleh masyarakat desa.
Sosiologi kota adalah kajian mengenai orang-orang kota dalam hubungan mereka antara satu kelompok dengan kelompok lain. Bidang ini mengkaji ciri orang kota, organisasi sosial dan aktivitas institusi mereka, proses interaksi asas yang berlaku dalam kehidupan kota, pengaruh perubahan sosial dan beberapa masalah yang mereka hadapi.
Sosiologi agama adalah melibatkan analisa sistimatik mengenai fenomena agama dengan menggunakan konsep dan metode sosiologi. Institusi agama dikaji sedemikian rupa, dan struktur serta prosesnya dianalisa, dan begitu juga hubungannya dengan institusi yang lain, perkembangan, penyebaran dan jatuhnya agama dikaji untuk tujuan prinsip umum yang dapat diperoleh darinya. Metode pengendalian sosial melalui aktivitas agama dititikberatkan, seperti halnya aspek psikologi sosial mengenai tingkah laku kolektif dalam hubungannya dengan fungsi agama. Ajaran agama dianalisa dalam hubungan dengan struktur sosial.
Disamping sub-disiplin sosiologi tersebut di atas, juga ada disiplin sosiologi pendidikan dan pengetahuan. Ahli sosiologi mengatakan bahwa pendidikan adalah suatu kajian sosial, karena perkembangan anak perlu ditumbuhkan dari segi hubungannya dengan masyarakat dan kebudayaannya, individu tidak dapat berkembang jika diasingkan dari kelompok sosialnya, dan kelompok sosial yang akhirnya membentuk kepribadian tersebut melalui interaksi sosial.
Sosiologi pengetahuan, suatu kajian mengenai hubungan antara struktur pemikiran dan latar belakang sosiologi di mana ia hidup dan berfungsi, karena manusia ingin mengetahui diri dan lingkungannya.

D.    Metode dan Pendekatan Utama Dalam Sosiologi
Untuk menghasilkan suatu teori tentulah melalui pendekatan-pendekatan, demikian  halnya  dengan  teori-teori sosiologi. Ada tiga pendekatan utama sosiologi, yaitu :
1.    Pendekatan struktural – fungsional.
2.    Pendekatan konflik (marxien).
3.    Pendekatan interaksionisme – simbolis.
Pendekatan struktural – fungsional terkenal pada akhir 1930-an, dan mengandung pandangan makroskopis terhadap masyarakat. Walaupun pendekatan ini bersumber pada sosiolog-sosiolog Eropa seperti Max Webber, Emile Durkheim, Vill Predo Hareto, dan beberapa antropolog sosial Inggris, namun yang pertama mengemukakan rumusan sistematis mengenai teori ini adalah Halcot Parsons, dari Harvard. Teori ini kemudian dikembangkan oleh para mahasiswa Parson, dan para murid mahasiswa tersebut, terutama di Amerika. Pendekatan ini didasarkan pada dua asumsi dasar yaitu :
1.    Masyarakat terbentuk atas substruktur-substruktur yang dalam fungsi-fungsi mereka masing-masing, saling bergantung, sehingga perubahan-perubahan yang terjadi dalam fungsi satu sub-struktur dengan sendirinya akan tercermin pada perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur-struktur lainnya pula. Karena itu, tugas analisis sosiologis adalah menyelidiki mengapa yang satu mempengaruhi yang lain, dan sampai sejauh mana.
2.    Setiap struktur berfungsi sebagai penopang aktivitas-aktivitas atau substruktur-substruktur lainnya dalam suatu sistem sosial. Contoh-contoh sub-struktur ini dalam masyarakat adalah keluarga, perekonomian, politik, agama, pendidikan, rekreasi, hukum dan pranata-pranata mapan lainnya.
Adapun pendekatan marxien atau pendekatan konflik merupakan pendekatan alternatif paling menonjol saat ini terhadap pendekatan struktural-struktural sosial makro. Karl Marx (1818-1883) adalah tokoh yang sangat terkenal sebagai pencetus gerakan sosialis internasional. Meskipun sebagian besar tulisannya ia tujukan untuk mengembangkan sayap gerakan ini, tetapi banyak asumsinya yang dalam pengertian modern diakui sebagai bersifat sosiologis.  Namun para pengikut sosiologi Marx menggunakan pedoman-pedoman sosiologis dan ideologisnya Marx secara sangat eksplisit, sedangkan prasangka idiologis hanya secara implisit terdapat dalam tulisan-tulisan para penganut pendekatan struksional-fungsional.
Sosiologi Marx didasarkan atas dua asumsi pokok:
1.    Ia memandang kegiatan ekonomi sebagai faktor penentu utama semua kegiatan kemasyarakatan.
2.    Ia melihat masyarakat manusia terutama dari sudut konflik di sepanjang sejarah. Menurut Marx, motif-motif ekonomi dalam masyarakat mendominasi semua struktur lainnya seperti keluarga, agama, hukum, seni, sastra, sains dan moralitas.
Ia menganggap cara produksi di sepanjang sejarah manusia secara sedemikian rupa, sehingga sampai-sampai ia berpandangan sumber daya ekonomi dikuasai oleh segelintir orang tertentu, sementara golongan masyarakat lainnya ditakdirkan untuk bekerja demi mereka dan tetap bergantung pada kemurahan hati segelintir penguasa sebagian besar sumber daya itu. Karenanya Marx melihat masyarakat terbagi jadi dua kelas:
1.    Kelas pemilik yang selalu mengekploitasi.
2.    Kelas buruh yang senantiasa terekploitasi.
Pengeksploitasian terus menerus ini menurut Marx mengharuskan terjadinya revolusi-revolusi.
Bertolak dari memandang sejarah manusia dengan cara seperti ini, Marx mengajukan teori sosialismenya yakni suatu solusi final agar seluruh sumber daya  dapat dimiliki oleh semua orang. Dan revolusi-revolusi lanjutan tidak lagi diperlukan karena idealnya tidak ada lagi kelaparan, pengeksploitasian dan konflik.
Sedangkan pendekatan intraksionalisme-simbolis merupakan sebuah perspektif mikro dalam sosiologi, yang barang kali sangat spekulatif pada tahapan analisisnya sekarang ini. Tetapi pendekatan ini mengandung sedikit sekali prasangka idiologis, walaupun meminjam banyak dari lingkungan barat tempat dibinanya pendekatan ini.
Pendekatan intraksionisme simbolis lebih sering disebut pendekatan intraksionis saja, bertolak dari interaksi sosial pada tingkat paling minimal. Dari tingkat mikro ini ia diharapkan memperluas cakupan analisisnya guna menangkap keseluruhan masyarakat sebagai penentu proses dari banyak interaksi. Manusia dipandang mempelajari situasi-situasi transaksi-transaksi politis dan ekonomis, situasi-situasi di dalam dan di luar keluarga, situasi-situasi permainan dan pendidikan, situasi-situasi organisasi formal dan informal dan seterusnya.

E.    Agama sebagai Fenomena Sosiologi
Penjelasan yang bagaimanapun tentang agama, tidak akan pernah tuntas tanpa mengikutsertakan aspek-aspek sosiologinya. Agama yang menyangkut kepercayaan serta berbagai prakteknya benar-benar merupakan masalah sosial, dan sampai saat ini senantiasa ditemukan dalam setiap masyarakat manusia di mana telah dimiliki berbagai catatan tentang itu, termasuk yang bisa diketengahkan dan ditafsirkan oleh para ahli arkeologi.
Dalam masyarakat yang sudah mapan, agama merupakan salah satu struktur institusional penting yang melengkapi keseluruhan sistem sosial. Akan tetapi masalah agama berbeda dengan masalah pemerintahan dan hukum, yang lazim menyangkut alokasi serta pengendalian kekuasaan. Berbeda dengan lembaga ekonomi yang berkaitan dengan kerja, produksi dan pertukaran. Dan juga berbeda dengan lembaga keluarga yang diantaranya berkaitan dengan pertalian keturunan serta kekerabatan.
Thomas F. O’dea mengatakan “masalah inti dari agama tampaknya menyangkut sesuatu yang masih kabur serta tidak dapat diraba, yang realitas empirisnya sama sekali belum jelas. Ia menyangkut dunia luar, hubungan manusia dan sikapnya terhadap dunia luar itu, dan dengan apa yang dianggap manusia sebagai implikasi praktis dari dunia luar tersebut terhadap kehidupan manusia”.
Perbandingan aktivitas keagamaan dengan aktivitas lain atau perbandingan lembaga keagamaan dengan lembaga sosial lain, sepintas menunjukkan bahwa agama dalam kaitannya dengan masalah yang tidak dapat diraba tersebut merupakan sesuatu yang tidak penting, sesuatu yang sepele dibandingkan bagi masalah pokok manusia. Namun kenyataan menunjukkan lain. Sebenarnya lembaga keagamaan adalah menyangkut hal yang mengandung arti penting menyangkut masalah kehidupan manusia, yang dalam transedensinya mencakup sesuatu yang mempunyai arti penting dan menonjol bagi manusia. Bahkan sejarah menunjukkan bahwa lembaga-lembaga keagamaan merupakan bentuk asosiasi manusia yang paling mungkin untuk terus bertahan.
Disamping itu agama telah dicirikan sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling kental; sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu, sebagai sesuatu yang memuliakan dan yang membuat manusia beradab. Tetapi agama juga dituduh sebagai penghambat kemajuan manusia, dan mempertinggi panatisme dan sifat tidak toleran. Pengacauan, pengabaian, tahayul dan kesia-siaan.
Catatan sejarah yang ada menunjukkan agama sebagai salah satu penghambat tatanan sosial yang telah mapan. Tetapi agama juga memperlihatkan kemampuannya melahirkan kecenderungan yang sangat revolusioner. Emile Durkheim seorang pelopor sosiologi agama di Prancis berpendapat bahwa agama merupakan sumber semua kebudayaan yang sangat tinggi. Sedangkan Marx mengatakan bahwa agama adalah candu bagi manusia.  Jelas agama menunjukkan seperangkat aktivitas sosial yang mempunyai arti penting.

F.    Pendekatan Sosiologis dalam Tradisi Intelektual Islam (Ibnu Khaldun).
Ibnu Khaldun  menghimpun aliran sosiologi dalam Mukaddimah. Cakrawala pemikiran Ibnu Khaldun sangat luas, dia dapat memahami masyarakat dalam segala totalitasnya, dan dia menunjukkan segala penomena untuk bahan studinya. Dia juga mencoba untuk memahami gejala-gejala itu dan menjelaskan hubungan kausalitas di bawah sorotan sinar sejarah. Kemudian dia mensistematik proses peristiwa-peristiwa dan kaitannya dalam suatu kaidah sosial yang umum.
Keunggulan Mukaddimah ditemukan dalam beberapa hal yaitu :
1.    Pada falsafah sejarah. Penemuan ini telah memberi pengertian tentang pemahaman yang baru mengenai sejarah, yaitu bahwa sejarah itu adalah ilmu dan memiliki filsafat. Di mana peristiwa-peristiwa sejarah terkait dengan determinisme kealaman dan bahwa penomena sejarah adalah kejadian-kejadian dalam negara.
2.    Metodologi sejarah. Ibnu Khaldun melihat bahwa kriteria logika tidak sejalan dengan watak benda-benda empirik, oleh karena epistimologinya adalah observasi. Prinsip ini merangsang para sejarawan untuk mengorientasikan pemikirannya kepada eksprimen-eksprimen dan tidak menganggap cukup eksprimen yang sifatnya individual, tetapi mereka hendaknya mengambil sejumlah eksprimen. Dia berpendapat sesuai dengan metodologi sejarah, adanya hubungan antara sejarah dengan ekonomi, bahwa faktor utama dalam revolusi dan perubahan ialah ekonomi.
3.    Dialah penggagas ilmu peradaban atau filsafat sosial, pokok bahasannya ialah kesejahteraan masyarakat manusia dan kesejahteraan sosial. Ibnu Khaldun memandang ilmu peradaban adalah ilmu baru, luar biasa dan banyak faedahnya. Ilmu baru ini, yang diciptakan oleh Ibnu Khaldun memiliki arti yang besar. Menurutnya ilmu ini adalah kaidah-kaidah untuk memisahkan yang benar dari yang salah dalam penyajian fakta, menunjukkan yang mungkin dan yang mustahil.
Ibnu Khaldun membagi topik ke dalam 6 pasal besar yaitu :
a.    Tentang masyarakat manusia setara keseluruhan dan jenis-jenisnya dalam perimbangannya dengan bumi; “ilmu sosiologi umum”.
b.    Tentang masyarakat pengembara dengan menyebut kabilah-kabilah dan etnis yang biadab; “sosiologi pedesaan”.
c.    Tentang negara, khilafat dan pergantian sultan-sultan; “sosiologi politik”.
d.    Tentang masyarakat menetap, negeri-negeri dan kota; “sosiologi kota”.
e.    Tentang pertukangan, kehidupan, penghasilan dan aspek-aspeknya; “sosiologi industri”.
f.    Tentang ilmu pengetahuan, cara memperolehnya dan mengajarkannya; “sosiologi pendidikan”.
Juga dia adalah orang yang pertama yang mengaitkan antara evolusi masyarakat manusia dari satu sisi dan sebab-sebab yang berkaitan pada sisi yang lain. Dia mengetahui dengan baik masalah-masalah penelitian dan laporan-laporan penelitian. Laporan penelitian menurut Ibnu Khaldun hendaklah diperkuat oleh dalil-dalil yang meyakinkan. Dia telah mengkaji prilaku manusia dan pengaruh iklim dan berbagai aspek pencarian nafkah beserta penjelasan pengaruhnya pada konstitusi tubuh manusia dan intelektual manusia dan masyarakat.

G.    Penulis dan Karya Utama dalam Studi Islam dengan Pendekatan Sosiologis.
Dalam kajian pendekatan sosiologi dalam studi Islam, banyak para penulis baik penulis dari barat maupun penulis muslim itu sendiri, yang telah menghasilkan karyanya tentang sosiologi yang ada hubungannya dalam memahami agama. Diantaranya adalah Clifford Geertz dalam bukunya; The religion of Java, tulisannya ini sangat menberikan kontribusi yang luar biasa meskipun banyak kritikan yang dilontarkan kepadanya. Namun dari segi metodologi banyak manfaatnya yang bisa diambil dalam karyanya ini.Geertz menemukan adanya pengaruh agama dalam pojok dan celah kehidupan Jawa. Masih banyak lagi karya Geertz yang lain seperti; Religion as a cultural system dalam Anthropological approachhes to the study of religion, juga karyanya yang lain; Tafsir kebudayaan, after the fact, politik kebudayaan Islam serta karya-karya Geertz yang lainnya.
Menurut Akbar S.Ahmad tokoh-tokoh sosiologi dalam dunia Islam telah tumbuh dengan pesat jauh sebelum tokoh-tokoh dari barat muncul, seperti seorang tokoh muslim Abu Raihan Muhammad bin Ahmad al-Biruni al-Khawarizmi. Ilmuwan besar ini dilahirkan di Khawarizmi, Turkmenista, Dzulhijjah 362 H/ September 973 M. Ia tidak hanya menulis buku tentang sosiologi dan antropologi saja akan tetapi ia menguasai ilmu sejarah, matematika, fisika, ilmu falak, kedokteran, ilmu bahasa, geografi dan filsafat. Dia adalah seorang yang terkenal banyak mengarang dan menerjemahkan karya-karya tentang kebudayaan India kedalam bahasa Arab. 
Masih dalam lingkup yang sama , al-Biruni tidak menyia-nyiakan kesempatan beberapa ekspedisi militer ke India bersama sultan Mahmoud Gezna. Dia pergunakan lawatannya tersebut dengan melakukan penelitian seputar adat istiadat, agama dan kepercayaan masyarakat India. Selain itu, dia juga belajar filsafat Hindu pada sarjana setempat. Jerih payahnya inilah menghasilkan karya besar berjudul Tarikh al-Hindi (sejarah India) tahun 1030 M.
Menurut sumber-sumber otentik, karya al-Biruni lebih dari 200 buah, namun hanya sekitar 180 saja yang diketahui dan terlacak.beberapa diantara bukunya terbilang sebagai karya monumental. Selain yang telah tersebut di atas . Seperti buku al-Atsar al-Baqiyah ‘an al-Qurun al-Khaliyah (peninggalan bangsa-bangsa kuno) yang ditulisnya pada 998 M, ketika dia merantau ke-Jurjan, daerah tenggara laut Kaspia. Dalam karyanya tersebut, al-Biruni antara lain mengupas sekitar upacara-upacara ritual, pesta dan festival  bangsa-bangsa kuno.
 Ali Syari’ati merupakan salah satu tokoh sosiologi, yang menyatukan ide dan praktik yang menjelma dalam revolusi Islam Iran. Kekuatan idenya itulah yang menggerakkan pemimpin spiritual Iran, Ali Khomeini memimpin gerakan masa yang melahirkan Republik Islam Iran pada tahun 1979. Meski buah pikirannya, saham pemikir besar ini dinilai sangat berharga bagi percaturan Islam dikemudian hari. Ali Syari’ati di lahirkan di Khurasan, Iran 24 November 1933.  Sebagai sang sosiolog yang tertarik pada dialektis antara teori dan praktik : antara ide dan kekuatan-kekuatan sosial dan antara kesadaran dan eksistensi kemanusiaan. Dua tahun sebelum revolusi Iran- Syari’ati telah menulis beberapa buku, diantaranya : Marxisme and other western Fallacies, On the Sociology of Islam, Al-Ummah wa Al-Imamah, Intizar Madab I’tiraz dan Role  of Intellectual in Society.
 Selanjutnya Ibnu Batutah, adapun karyanya yang berjudul Tuhfah al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa Ajaib al-Asfar (persembahan seorang pengamat tentang kota-kota asing dan perjalanan yang mengagumkan)
Kemudian tokoh sosiologi yang tidak asing lagi yaitu Ibnu Khaldun, pemikiran dan teori-teori politiknya yang sangat maju telah mempengaruhi karya-karya para pemikir politik terkemuka sesudahnya seperti Machiavelli dan Vico. Dia mampu menembus ke dalam fenomena sosial sebagai filsuf dan ahli ekonomi yang dalam ilmunya. Dia juga peletak dasar ilmu sosiologi dan politik melalui karya magnum opus-nya, Al-Muqaddimah.
Adapun teori yang dikemukakan Ibnu Khaldun dikenal orang dengan teori disintegrasi (ancaman perpecahan suatu masyarakat/bangsa). Dia menulis soal itu lantaran melihat secara faktual ancaman disintegrasi akan membayangi dan mengintai umat manusia bila mengabaikan dimensi stabilitas sosial dan politik dalam masyarakatnya. Setidaknya, berkat dialah dasar-dasar ilmu sosiologi politik dan filsafat dibangun. Tidak heran jika warisannya itu banyak diterjemahkan keberbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Juga banyak tokoh-tokoh sosiologi Indonesia seperti : Soerjono Soekanto, diantara karyanya; sosiologi suatu pengantar. Koentjaraningrat diantara hasil karyanya; masyarakat desa di Indonesia masa ini, beberapa pokok antropologi sosial dan lain-lain.
Beberapa tokoh-tokoh  yang mempengaruhi perkembangan ilmu sosiologi lainnya diantaranya yaitu : Agust Comte (1798-1857), seorang Perancis yang merupakan bapak sosiologi yang pertama kali memberi nama pada ilmu tersebut yaitu dari kata-kata socius dan logos. Hasil karyanya adalah; The scisntific labors necessary for the reorganization of society (1822). The positive philosophy (6 Jilid 1830-1840), subjective synthesis (1820-1903). Herbert Spencer (1820-1903), karyanya yang terkenal; The principles of sociology, yang menguraikan materi sosiologi secara sistematis.
Emile Durkheim (1858 – 1917), adapun karyanya; The social division of labor, The rules of sociological method dan The elementary forms of religious life. Max Weber (1864-1920), sosiologi dikatakan sebagai suatu ilmu yang berusaha untuk memberikan pengertian tentang aksi-aksi sosial untuk memperoleh gambaran dan pengaruhnya. Diantara karyanya adalah; Economic and society, collected essays on sosiology of religion dan lain-lain.
Charles Horton Cooley (1864 – 1929), yang mengembangkan konsepsi mengenai hubungan timbal balik dan hubungan yang tidak terpisahkan antara individu dan masyarakat. Karyanya adalah; Human ature and society order, social organization dan social process. Ferdinand Tonnis , hasil karyanya; Sociological studies and critism ( 3 jilid, 1952). Vilfredo Pareto ( 1848 – 1923), hasil karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul; The  mind and society.
Thomas F.O’deo, hasil karyanya; The sociology of religion. Karl Marx (1818-1883) adalah tokoh yang sangat terkenal sebagai pencetus gerakan sosialis internasional.

H.    Kesimpulan
Beberapa objek pendekatan sosiologi yang digunakan oleh para sosiolog ternyata menghasilkan cara untuk memahami agama dengan mudah. Selain itu memang menurut beberapa sosiolog dan ahli metodologi studi-studi ke-Islaman bahwa agama Islam itu sendiri sangat mementingkan peranan aspek sosial dalam kehidupan beragama.
Karena objek sosiologi adalah masyarakat, maka ilmu ini sangat cepat berkembang dan bercabang kepada bidang-bidang keilmuan lainnya, sosiologi hukum, sosiologi perkotaan, sosiologi pedesaan, sastra dan lain sebagainya, dan tidak menutup kemungkinan  bahwa  cabang-cabang sosiologi akan bertambah.  
Kajian-kajian ke-Islaman yang menggunakan pendekatan sosiologi sangat menarik dan lebih dapat mendekatkan pemahaman terhadap universalitas ajaran Islam itu sendiri. Tetapi kajian-kajian tersebut masih membutuhkan uluran tangan sarjana-sarjana Islam untuk mengembangkannya.
Objek bahasan pendekatan sosiologi dalam studi Islam seperti dalam pembahasan buku ini, terdapat tiga pendekatan utama sosiologi, yaitu : 1) pendekatan struktural–fungsional, 2) pendekatan konflik atau marxien dan 3) pendekatan interaksionisme–simbolis.



Daftar Pustaka
 
Abdullah, Syamsuddin, Agama dan Masyarakat. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.
Ahmad, Ilyas Ba-Yunus Farid, Islamic Sosiology; An Introduction, terj. Hamid Basyaib, Bandung: Mizan, 1996.
Ali, A. Mukti, Ibnu Khaldun dan Asal-usul Sosiolog. Yogyakarta: Yayasan Nida, 1970.
Jawanisi, Abu al-Futuh Muhammad al-, Abu Raihan Muhammad Ibnu Ahmad al-Biruni, , Kairo : al-Majlis a’la li al-Syu’al-Islamiyah 1967.
Nata, Abuddin, Metodelogi Studi Islam. Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2002.
O’dea, Thomas, The Sosiology of  Religion, terj. Tim Yosogama.  Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1995.
Roucek, Joseph dan Rolan Werren, Sosiologi An Introduction, terj. Sehat Simamora. Jakarta: PT. Bina Aksara, 1984.
Sanderson, Stepen, Sosiologi Makro, edisi Indonesia, Hotman M. Siahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.
Sanderson, Steven, Sosiologi Makro, terj. Sahat Simamora. Jakarta : Bina Aksara, 1984.
Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali, 1987.
Sucipto, Hery, Ensiklopedi Tokoh Islam. Bandung : Mizan 2003.
Syani, Abdul, Sosiologi Dan Perubahan Masyarakat. Lampung : Pustaka Jaya, 1995.
PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM STUDI ISLAM
Oleh: Murni, S.Pd.I

A.    Pendahuluan
Berbagai fenomena kehidupan manusia di dunia, sejak lama telah dikaji oleh para ilmuan melalui berbagai macam pendekatan, termasuk dengan  pendekatan antropologi yang telah dilakukan oleh pengkaji sosial budaya, dan pada gilirannya pendekatan antropologi budaya dan sosial juga telah dimanfaatkan dalam mengkaji fenomena keagamaan. Agama  merupakan bagian dari kebudayaan. Sehingga ia pun dapat dikaji dengan pendekatan antropologis. Agama  dapat dikaji dengan pendekatan antropologis karena ia dipandang oleh antropologi- sebagai suatu –produk- budaya atau suatu fenomena –agama- yang memiliki unsur budaya.
Pendekatan antropologi dalam mengkaji fenomena-fenomena keagamaan tersebut dengan tujuan untuk lebih dapat memahami perilaku umat Islam dan dalam rangka pembangunan kehidupan beragama umat Islam itu sendiri. Namun dalam penerapannya perlu menyelaraskan pendekatan antropologi ini dengan nila-nilai yang dikandung Islam.
            Tujuan diciptakannya manusia di alam semesta ini adalah semata-mata hanya untuk mengabdikan diri kepada penciptanya, yaitu Allah SWT, sesuai dengan firman Nya:
            Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz- Zariyat: 56)
            Agama Islam yang di bawa oleh nabi Muhammad saw diyakini oleh pemeluknya dapat menjamin kesejahteraan hidup manusia lahir dan batin. Di dalamnya terdapat aturan dan petunjuk bagaimana seharusnya manusia menyikapi kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas-luasnya. Mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran manusia melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengutamakan waktu, berakhlak mulia, dan sikap positif lainnya. Namun kenyataan Islam sekarang menampilkan keadaan yang jauh dari cita-cita tersebut.
             Berdasarkan pemaparan di atas, maka dirasa penting untuk menerapkan  pendekatan antropologi dalam memahami agama, walaupun bermacam-macam pendekatan yang dilakukan dalam antropologi tidak sampai mengkaji agama pada hukum halal atau haram, tetapi masih merupakan sebuah terapi dan tidak akan pernah selesai, hanya meneliti masalah apa, mengapa, bagaimana, dan seterusnya. Oleh karena itu, mengkaji agama tidak cukup hanya dengan satu disiplin ilmu, tapi terdapat interdisipliner dan multidisipliner dengan ilmu yang lain,  sehingga nantinya melalui pendekatan ini, agama akan terasa lebih bermakna dan hadir kokoh dalam masyarakat tatkala kita memahami agama kita.
            Dalam makalah ini, penulis berupaya memaparkan tentang pengertian antropologi, antropologi agama dan pendekatan antropologis, aplikasi pendekatan antropologis dalam mengkaji Islam dan umat Islam, penulis dan karya utama dalam kajian antropologis tentang Islam, gagasan Islamisasi antropologi, signifikansi dan kontribusi pendekatan antropologis dalam studi Islam.

B.    Pengertian Antropologi, Antropologi Agama, dan Pendekatan Antropologis

            Untuk mendekatkan pemahaman tentang studi agama melalui pendekatan antropologi, maka ada beberapa pengertian yang harus dipahami terlebih dahulu, antara lain;
1.      Pengertian Antropologi
Secara etimologis, Antropologi tersusun dari term Latin anthropos yang artinya manusia, dan term Yunani logos yang berarti “kata’ atau “berbicara”. Antropologi berarti: “berbicara tentang manusia”.  Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Antropologi diartikan sebagai Ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat dan kepercayaannya pada masa lampau. Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia disebutkan, Antropologi adalah ilmu pengetahuan tentang manusia baik fisik maupun kebudayaannya (anthropos: manusia, logos: ilmu)  
Sedangkan menurut Koentjaraningrat  dalam bukunya Pengantar Antropologi  menyebutkan pengertian Antropologi sebagai berikut :
Antropologi atau “Ilmu tentang manusia” adalah suatu istilah yang pada awalnya mempunyai makna yang lain, yaitu “ilmu tentang ciri-ciri tubuh manusia”. Dalam fase ke tiga perkembangan antropologi, istilah ini terutama mulai dipakai di Inggris dan Amerika dengan arti yang sama seperti etnology pada awalnya. Di Inggris, istilah antropologi kemudian malahan mendesak istilah etnology, sementara di Amerika, antropologi mendapat pengertian yang sangat luas karena meliputi bagian-bagian fisik maupun sosial dari “ilmu tentang manusia” Di Eropa Barat dan Eropa Tengah istilah antropologi hanya diartikan sebagai “ilmu tentang manusia dipandang dari ciri-ciri fisiknya”.
          Berdasarkan uraian yang telah disebutkan di atas dapat disebutkan bahwa Antropologi ialah Suatu Ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dalam hal-hal yang berkaitan dengan aspek fisiknya yakni: warna kulit, bentuk rambut, bentuk muka, bentuk hidung, tinggi badan maupun dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosialnya.
Salah satu cara memahami perilaku manusia adalah melalui budaya. Menurut Van Peursen kebudayaan manusia berjalan melalui 3 fase, yaitu: Fase Mistis, Fase Ontologis, dan Fase Fungsional.
1.    Fase Mistis
Pada fase ini manusia melihat dunia dan alam sekitarnya sebagai kekuatan-kekuatan yang menakutkan, mengancam, bahkan menentukan nasib serta kelangsungan hidupnya. Oleh karenanya pada fase ini dikenal kepercayaan yang meyakini adanya kekuatan pada alam sekitar (mitos) seperti : benda-benda, hewan, pohon, lautan, gunung, dan lain-lain. Pada fase ini juga dikenal adanya istilah Magis, yaitu suatu bentuk kepandaian yang di-miliki manusia untuk menguasai alam sekitarnya, termasuk menguasai sesamanya.
2.    Fase Ontologis
Fase ini ditandai adanya interaksi yang berjarak antara manusia dengan alam. Dengan menggunakan akalnya manusia mulai bertanya dan mempelajari alam sekitarnya, sehingga berkembang ilmu pengetahuan. Pada fase ini manusia mulai mengembangkan ilmu pengetahuan. Alam tak lagi dipandang sebagai kekuatan gelap yang tidak dimengerti hakekatnya, tapi sebagai sesuatu yang bisa dipelajari dan dimengerti. Tapi meskipun begitu, bukan berarti manusia hanya menggunakan akal pikirannya saja, tapi emosi-emosi, keyakinan-keyakinan dan harapan sosial masih tetap berpengaruh.
3.    Fase Fungsional
Pada fase ini daya-daya kekuatan alam tersebut diberi arah tertentu agar bermanfaat bagi manusia. Dengan belajar, manusia memperbaharui pandangannya. Alam tak lagi dipandang sebagai subyek yang bisa mengatur manusia, melainkan menjadi obyek yang dipengaruhi manusia sesuai kepentingannya.
Kalau kita sepakat bahwa manusia mengalami tiga fase budaya tersebut, saat ini manusia telah melampauinya. Manusia telah berhasil melampaui batas-batas pemahaman akan diri dan lingkungannya. Ia tak lagi melihat dirinya sebagai makhluk yang hanya mampu beradaptasi, tapi juga merasa memiliki kemauan dan kemampuan untuk mewujudkan semua impiannya.
4.    Antropologi Agama
Sebagaimana yang telah disebutkan pada bagian terdahulu bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari aspek fisik maupun dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sosialnya. Sedangkan agama menurut Harun Nasution berasal dari bahasa Sanskrit yaitu: 
kata a: tidak, dan gam: pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap ditempat diwarisi secara turun temurun. Secara terminologi,  defenisi agama sebagai berikut: (1)Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi, (2) Pengakuan terhadap kekuatan gaib yang menguasai manusia, (3)Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia, (4) Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu, (5) Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib, (6) Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib, (7) Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia,  (8) Ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.
Berdasarkan dari pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa antropologi agama adalah salah satu upaya untuk memahami agama melaui ilmu yang mempelajari tentang manusia  sebagai penganut agama tersebut termasuk fenomena yang ada di sekitarnya, karena agama merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan. Melalui antropologi, diharapkan agama dapat lebih mudah untuk dipahami dan mampu mengatasi permasalahan yang timbul. P.L Stein dan B.M Rowe (1982) menyebutkan, mempelajari manusia tidak dapat lepas dari aspek lingkungan alam di sekitar kehidupan mereka. Saat ini pada hakikatnya, antropologi mendasarkan pendekatannya pada prinsip holistik, yaitu memahami manusia sebagai satu keutuhan (total being). Antropologi mempelajari manusia masa kini dan masa lalu dari pelbagai penjuru dunia dengan segala aspek, yaitu: fisik, psikologi, sosial, moral, sistem polotik, kesenian, kekerabatan, filsafat, dan agama.
Koentjaraningrat  dalam bukunya menyebutkan bahwa, Antropologi sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri masa perkembangannya berawal dari kedatangan orang-orang Eropa ke Benua Afrika, Asia dan Antartika, sebelum abad ke 18 M, hasil perjalanan mereka menuju berbagai wilayah dengan berbagai misi perjalanan yang terdiri dari para musafir, pelaut, pendeta, penyiar agama dan pegawai pemerintah jajahan mulai dikumpulkan dalam himpunan buku besar yang memuat deskripsi adat istiadat, susunan masyarakat, bahasa dan ciri-ciri fisik berbagai warna suku bangsa. Pengetahuan tentang ciri-ciri fisik ini kemudian dikenal dengan istilah etnografi.
Dalam fase perkembangannya, antropologi agama terbagi pada beberapa aliran, diantaranya, aliran fungsional, aliran struktural dan aliran historis.  Aliran fungsional atau fungsionalisme dengan tokohnya Brosnilaw Kacper (1884-1942) berpendapat bahwa suatu aspek kebudayaan, termasuk model-model keagamaan mempunyai fungsi dalam kaitannya dengan aspek lain sebagai kesatuan, dan juga berkeyakinan bahwa institusi-institusi atau lembaga-lembaga kebudayaan dan keagamaan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Penelitian dalam aliran fungsionalis ini bersifat longitudinal, bahkan bisa bertahun-tahun.10
Aliran struktural dengan tokohnya Clauda Levi Strauss (1908-1975), tidak begitu banyak melakukan penelitian lapangan, namun ia menganjurkan adanya dislansi, yakni mengambil jarak dari objek.
Aliran historis, dengan tokohnya E. Evans Pritchard (1902-1973), mencirikan penggunaan hermeneutic, yakni melakukan penafsiran terhadap kata-kata dan istilah-istilah bahasa bangsa yang ditelitinya, disamping watak diakronisnya. Ciri-ciri antropologi historisnya adalah :
Seperti halnya sejarah, berusaha mengerti, memahami ciri penting suatu kebudayaan dan selanjutnya menerjemahkan ciri-ciri itu kedalam kata-kata atau istilah-istilah bahasa peneliti sendiri. Berusaha menemukan struktur yang mendasari masyarakat dan kebudayaannya dengan analisis-analisis yang dinamakan analisis struktural. Struktural masyarakat dan kebudayaan ini kemudian dibandingkan dengan struktur masyarakat dan kebudayaan yang berbeda.
    Sejarah lahirnya antropologi bila dibandingkan dengan perjalanan seorang filosof muslim yang dikenal dengan nama Al Biruni (973-1048 M), yang telah melakukan perjalanan ke Asia Selatan,  anak benua mendampingi Sultan Mahmud Al-Faznawi, selama di India – lebih kurang 13 tahun   ia mempelajari bahasa Sansekerta, budaya India, agamanya, Geografi, Matematik, Astronomi (Ilmu Falak) dan Filsafat. Dari mempelajari bahasa, budaya, filsafat, agama dan berbagai ilmu pengetahuan selama di India, Al-Biruni menulis berbagai buku, antara lain: Tarikh al-Hind, al-Jamahir fi al-Jawahir, Tahqiq ma li al-Hind min Ma’qulah, Maqbulah fi al-Aql au Marzulah.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya model pendekatan antropologi dalam memahami agama dengan menggunakan pengamatan terlibat (participant observation) telah ditunjukkan oleh Al-Biruni dalam mengkaji bahasa, budaya, dan agama masyarakat India, kehidupan ruhani dan intelektual mereka.
Sebenarnya studi Agama telah dimulai sejak  sebelum masehi, yaitu sebagaimana diungkapkan oleh Mircea Aliade. Di era Yunani  pra Sokrates sudah lahir catatan dan laporan mengenai kehidupan keagamaan masyarakat Yunani. Namun secara aklamatif diakui bahwa studi agama modern didirikan oleh Friedrich Max Muller (1823-1900), yang memunculkan kajian metode perbandingan terhadap agama-agama yang kemudian dijadikan sebagai tonggak berdirinya studi agama sebagai sebuah disiplin keilmuan modern. Tradisi yang muncul dari kajian-kajian agama Muller, memiliki arah dua sisi ; pertama, kajian terhadap data sejarah agama-agama, dan kedua, kecendrungan kearah kajian struktur atau muatan dari kehidupan keagamaan itu sendiri.
5.    Pendekatan Antropologis Dalam Penelitian Agama
Adapun yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma realitas agama yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya.
Antropologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri secara khusus terbagi ke dalam 5 sub ilmu yang mempelajari :
1.    Masalah asal dan perkembangan manusia,        
2.    Masalah  terjadinya aneka warna ciri fisik manusia
3.    Masalah terjadinya perkembangan dan persebaran aneka warna kebudayaan manusia
4.    Masalah asal perkembangan dan persebaran  warna bahasa yang diucapkan oleh manusia
5.    Masalah mengenai asas  masyarakat dan kebudayaan manusia dari aneka suku bangsa yang tersebar di seluruh dunia dan masa kini.

Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan demikian pendekatan antropologi dalam mengkaji agama berarti menggunakan cara-cara yang digunakan oleh disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah dalam upaya memahami agama. Menurut Amin Abdullah cara kerja –yang dalam hal ini bisa kita artikan sebagai langkah dan tahapan- pendekatan antropologis pada penelitian agama memiliki empat ciri fundamental, meliputi:   
      1.  Deskriptif : Pendekatan antropologis  bermula dan diawali dari kerja lapangan  (field     work),  berhubungan  dengan orang dan –atau- masyarakat (kelompok)  setempat yang diamati dalam jangka waktu yang lama.  Inilah yang biasa disebut dengan (thick description).
      2. Lokal Praktis : Pendekatan antropologis disertai praktik konkrit dan nyata di lapangan. Yakni, dengan ikut praktik di dalam peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan, semisal kelahiran, perkawinan, kematian dan pemakaman.
       3. Keterkaitan antar domain kehidupan  secara lebih utuh (connections across social domains) : Pendekatan antropologis mencari keterkaitan antara domain-domain kehidupan  sosial secara lebih utuh. Yakni, hubungan antara wilayah ekonomi, sosial, agama, budaya dan politik.  Hal ini dikarenakan hampir tidak ada satu pun domain wilayah kehidupan yang dapat berdiri sendiri dan terlepas tanpa terkait dengan wilayah domain kehidupan yang lainnya.
      4. Komparatif (Perbandingan) : Pendekatan antropologis –perlu- melakukan perbandingan dengan berbagai tradisi, sosial, budaya dan agama-agama.
Melalui pendekatan antropologi sosok agama yang berada pada dataran empirik akan dapat dilihat serat-seratnya dan latar belakang mengapa ajaran agama tersebut muncul dan dirumuskan. Antropologi berupaya melihat hubungan antara agama dengan berbagai pranata sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan yang positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik.
 Menurut kesimpulan penelitian antropologi, bahwa golongan masyarakat kurang mampu dan golongan miskin lain, pada umumnya lebih tertarik kepada gerakan keagamaan yang bersifat messianis, yaitu sebuah kepercayaan rakyat akan datangnya sosok yang dianggap mampu menebar keadilan dan ketenteraman, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan golongan kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi karena tatanan tersebut menguntungkan pihaknya.   Sebagai contoh sebagaimana disebut Robert N. Bellah tentang adanya korelasi positif antara ajaran agama Tokugawa, yakni semacam pencampuran antara agama Budha dan Sinto pada era pemerintahan Meiji dengan semangat etos kerja orang Jepang modern.
Contoh lain yang mencerminkan bahwa studi agama dapat dilakukan melalui pendekatan antropologi ialah sebagaimana kisah salah seorang dari wali songo atau dikenal juga dengan sebutan Sembilan wali, yaitu Sunan Kalijaga yang  dalam berdakwah, ia punya pola yang sama dengan Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, sangat toleran pada budaya lokal dan berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap, mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama akan hilang. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah.
    Dengan menggunakan pendekatan dan perspektif antropologi tersebut di atas dapat diketahui bahwa doktrin-doktrin dan fenomena-fenomena keagamaan, ternyata tidak berdiri sendiri, dan tidak pernah terlepas dari jaringan institusi atau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya. Inilah makna dari penelitian antropologi dalam memahami gejala-gejala keagamaan. Agama sebagai fenomena kehidupan yang merefleksikan diri dalam sistem sosial budaya dan dalam bentuk prilaku berpola dapat dikaji dan diteliti melalui pendekatan antropologi dengan menggunakan partisipant observation (pengamatan terlibat). Pendekatan ini sangat ditekuni para ahli antroplogi untuk memahami prilaku yang tak dapat diukir secara kuantitatif, karena dapat digunakan untuk memahami berbagai aspek prilaku manusia beragama secara kualitatif, sebagaimana halnya keimanan, keikhlasan, keakraban, dan lain-lain konsep yang dibangun dalam kehidupan manusia beragama dapat lebih dipahami sebagai realitas sosial.
Dalam hal ini pendekatan antropologi  sebagaimana disebut M. Dawam Rahardjo dalam Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, bahwa antropologi dalam kaitan ini lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan yang sifatnya partisipatif. Dari sini timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologi. Penelitian antropologis yang induktif dan grounded, yaitu turun ke lapangan sebagai upaya untuk membebaskan diri dari kungkungan teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak.
C.      Aplikasi Pendekatan Antropologi Dalam Mengkaji Islam dan Umat Islam
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, aplikasi bermakna penggunaan, penerapan.   Adapun pengaplikasian antropologi dalam mengkaji Islam dan ummat Islam adalah dalam makna menggunakan pendekatan antropologi budaya dan antropologi sosial dalam mengkaji fenomena keberagamaan umat Islam. Pendekatan dan pemahaman terhadap fenomena keagamaan lewat antropologi seperti halnya mendekati dan memahami “objek” agama dari berbagai sudut pengamatan yang berbeda-beda.
Adalah Clifford Greezt dalam karyanya The Religion of Java,sebagai salah satu contoh penerapan pendekatan antropologi dalam mengkaji Islam dan umat Islam. Dalam karyanya tersebut Greezt melihat adanya klasifikasi sosial dalam masyarakat muslim di Jawa, antara santri, priyayi dan abangan.
Melalui pendekatan antropologi sebagaimana disebut Abuddin Nata, sosok agama yang berada pada dataran empirik akan dapat dilihat serat-seratnya dan latar belakang mengapa ajaran agama tersebut muncul dan dirumuskan. Antropologi berusaha mengkaji hubungan agama dengan pranata sosial yang terjadi dalam masyarakat, mengkaji hubungan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Dengan menggunakan pendekatan antropologi dapat diketahui bahwa doktrin-doktrin dan fenomena-fenomena keagamaan ternyata tidak berdiri sendiri dan tidak pernah terlepas dari jaringan institusi atau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya. Inilah makna pendekatan antropologi dalam memahami fenomena-fenomena keagamaan.
Dari berbagai uraian di atas dapat dipahami bahwa pendekatan antropologi bisa dijadikan untuk mendukung penjelasan bagaimana fenomena-fenomena keagamaan dapat terjadi dan bagaimana keterkaitannya dengan jaringan institusi dan kelembagaan sosial yang mendukung keberadaannya. Salah satu contoh yang sampai saat ini masih berlangsung di tengah-tengah masyarakat kita adalah sebuah upacara “tingkeban” dan “telonan” yang masih terpengaruh dengan budaya hindu-budha, namun upacara tersebut dapat kita Islamisasikan dengan memaknainya sebagai sebuah ungkapan rasa syukur kepada Allah swt lewat untaian surah dalam Al Qur’an dan doa kepada Allah swt agar diberi keselamatan, baik bayi yang sedang dikandung maupun sang ibu sendiri.
D.      Penulis dan Karya Utama Dalam Kajian Antropologi Tentang Islam
Penelitian di bidang  antropologi agama diantaranya adalah apa yang dilakukan oleh Clifford Greezt dalam meneliti keberadaan umat Islam di Pulau Jawa pada tahun 50-an dan penelitian ini telah dituliskan dalam buku The Religion of Java.
Dalam penelitiannya, Greetz melihat  masyarakat Jawa di Mojokuto sebagai suatu sistem sosial, dengan kebudayaan Jawanya yang akulturatif dan agama yang sinkretik, yang terdiri atas sub kebudayaan Jawa yang masing-masing merupakan struktur sosial yang berlainan, yakni: Abangan (yang intinya berpusat di pedesaan), santri, (yang intinya berpusat di tempat perdagangan atau pasar) dan priyayi (yang intinya berpusat dikota, kantor pemerintahan).
Pada masyarakat Mojokuto yang penduduknya sembilan puluh persen beragama Islam, sesungguhnya memiliki variasi dalam kepercayaan, nilai dan upacara yang berkaitan dengan masing-masing struktur sosial tersebut.
Adanya perbedaan lingkup ketiga struktur sosial tersebut dan adanya latar belakang sejarah kebudayaan yang berbeda yakni masuknya peradab Hindu dan Islam di Jawa, sebagaimana disebut Greezt dalam Abuddin Nata, telah melahirkan adanya Abangan yang menunjukkan pentingnya aspek-aspek animistik, Santri yang menekankan pentingnya aspek ajaran Islam dan priyayi yang menekankan aspek-aspek Hindu.
Penelitian yang dilakukan Greezt sebagaimana disebut Abuddin Nata adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini didasarkan pada data-data yang dihimpun melalui wawancara, pengamatan, survey dan Grounded Research yakni peneliti terlibat dalam kehidupan masyarakat yang ditelitinya.
Dengan demikian si peneliti tidak beranjak dari suatu teori atau hipotesa tertentu, ia turun kelapangan tanpa ada pra konsepsi terhadap fenomen keagamaan yang akan diamati.
Kajian lain tentang Islam dengan menggunakan pendekatan antropologi adalah penelitian dengan judul: Mesjid dan Bakul Keramat: Konflik dan Integrasi dalam Masyarakat Bugis Amparita, M. Atho Mudzhar dalam bukunya : Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, menyebutkan bahwa penelitian dengan judul di atas  adalah penelitian agama sebagai gejala sosial dengan metode grounded research. Penelitian ini mempelajari bagaimana tiga kelompok keagamaan di mana orang-orang Islam, orang-orang Towano Tolitang dan orang-orang Tolitang Benteng di desa Amparita, Sulawesi Selatan, berinteraksi satu sama lain, kadang-kadang dalam bentuk kerja sama atau bahkan integrasi.
Hasil penelitian menunjukkan terjadinya konflik antara ketiga kelompok bermula dari soal keagamaan (upacara kematian tahun 1944), kemudian bertambah intensitas dan kompleksitasnya setelah masuknya unsur politik (masa pemberontakan DI/TII 1951 dan pemberontakan PKI 1965), kemudian berbagai pranata sosial seperti perkawinan, pendidikan agama, aturan tentang makanan dan lain-lain berfungsi melestarikan konflik tersebut.
Selain  contoh penelitian kajian Islam melalui pendekatan antropologi seperti yang telah diuraikan di atas, berikut tokoh antropologi dunia dan hasil karyanya, antara lain:
1.     Al-Biruni ( 973-1048 M )
Al-Biruni adalah seorang filosof yang telah melakukan perjalanan ke Asia Selatan,   selama di India – lebih kurang 13 tahun  ia mempelajari bahasa Sansekerta, budaya India, agamanya, Geografi, Matematik, Astronomi (Ilmu Falak) dan Filsafat. Dari mempelajari bahasa, budaya, filsafat, agama dan berbagai ilmu pengetahuan selama di India, Al-Biruni menulis berbagai buku, antara lain: Tarikh al-Hind, al-Jamahir fi al-Jawahir, Tahqiq ma li al-Hind min Ma’qulah, Maqbulah fi al-Aql au Marzulah.
2.      Koentjaraningrat
              Koentjaraningrat lahir di Yogyakarta tahun 1923. Beliau lulus Sarjana Sastra Bahasa Indonesia Universitas Indonesia pada tahun 1952. mendapat gelar MA dalam antropologi dari Yale University (Amerika Serikat) tahun 1956, dan gelar Doktor Antropologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1958. Sebelum menjalani pensiun tahun 1988, ia menjadi gurubesar Antropologi pada Universitas Indonesia. Beliau pernah pula menjadi gurubesar luar biasa pada Universitas Gajah Mada, Akademi Hukum Militer, Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, dan pernah diundang sebagai gurubesar tamu di Universitas Utrecht (Belanda), Universitas Columbia, Universitas Illinors, Universitas Ohio, Universitas Wisconsin, Universitas Malaya, Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales di Paris, dan Center for South East Asian Studies, Universitas Kyoto. Penghargaan ilmiah yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Utrecht (1976) dan Fukuoka Asian Cultural Price (1995).
Menurut beliau, dalam menentukan dasar-dasar dari antropologi Indonesia, kita belum terikat oleh suatu tradisi sehingga kita masih dapat memilih serta mengkombinasikan berbagai unsur dari aliran yang paling sesuai yang telah berkembang di negara-negara lain, dan diselaraskan dengan masalah kemasyarakatan di Indonesia.   Karya-karyanya yang telah diterbitkan antara lain Atlas Etnografi Sedunia, Pengantar Antropologi, dan Keseragaman dan Aneka Warna Masyarakat Irian Barat.
3.      Parsudi Suparlan
       Prof. Parsudi Suparlan adalah seorang Antropolog Nasional, ilmuwan sejati, yang berjasa menjadikan Antropologi di Indonesia memiliki sosok dan corak yang tegas sebagai disiplin ilmiah, yang tak lain adalah karena pentingnya penguasaan teori. Beliau lulus Sarjana Antropologi dari Universitas Indonesia tahun 1964. Kemudian menempuh jenjang MA lulus pada tahun 1972 dan PhD lulus tahun 1976 di Amerika Serikat. Beliau mencapai gelar Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia tahun 1998. Menurut beliau, antropologi merupakan disiplin ilmu yang kuat, karena pentingnya teori, ketajaman analisis, ketepatan metodologi, dan tidak hanya sekedar mengurai-uraikan data. Selain itu, juga pentingnya pemahaman yang kuat mangenai konsep kebudayaan dan struktur sosial.  
4.     James Danandjaja
James Danandjaja dilahirkan di Jakarta 13 April 1934. Beliau adalah tokoh Folklor Nusantara yang pertama. Bagian budaya yang bernama folklor itu berupa bahasa rakyat, ungkapan tradisional, teka-teki, legenda, dongeng, lelucon, nyanyian rakyat, seni rupa, dan lain sebagainya. Ilmu tentang folklor ia perkenalkan kepada mahasiswa jurusan Antropologi FISIP Universitas Indonesia sejak tahun 1972. pada mata kuliah tersebut, para mahasiswa antara lain ditugasinya mengumpulkan berbagai folklor di tanah air. Hasil pengumpulan itulah, antara lain yang ia gunakan untuk bukunya. Ia mendapatkan Master dari Universitas Berkeley tahun 1971 dengan karya tulis yang kemudian diterbitkan sebagai buku, An Annotated Bibliography of Javanese Folklore. Gelar Doktor dalam bidang Antropologi Psikologi ia peroleh dari Universitas Indonesia tahun 1977, dengan disertasi Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali. Buku lain karya Jimmi adalah Pantomim Suci Betara Berata dari Trunyan, Bali dan Upacara Lingkaran Hidup di Trunyan, Bali, serta Folklor Indonesia.  
E.    Gagasan Islamisasi Antropologi, Signifkansi dan Konstribusi Pendekatan    Antropologi Dalam Studi Islam
Pemikiran mengenai Islamisasi pengetahuan telah berkembang di kalangan cendikiawan muslim sekitar penghujung abad ke 14 Hijrah. Hal ini dimungkinkan karena semakin disadarinya ketimpangan-ketimpangan yang merugikan akibat terpisah dan terkotak-kotaknya antara ilmu pengetahuan dengan agama, antara lain dalam perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin lama semakin canggih, ternyata makin meninggalkan nilai-nilai etis dan agama. Dimaksud dengan Islamisasi pengetahuan adalah mengislamisasikan disiplin-disiplin ilmu dalam makna menghasilkan buku-buku pegangan pada level universitas dengan menuangkan kembali kira-kira dua puluh buah disiplin dengan wawasan Islam  
Tugas yang sangat berat yang harus dihadapi intelektual muslim adalah merekonstruksi warisan keilmuwan itu dalam format keilmuwan modern. Oleh karena itu, seperti disarankan oleh Akbar S Ahmad, kita tidak harus membuang seluruh kajian ilmuan Barat. Setidaknya kreatifitas yang telah mereka hasilkan dapat dijadikan bahan komparatif untuk para antropolog Islam. Hal yang selanjutnya dilakukan adalah meminjam gagasan Al Faruqi sebagai islamisasi ilmu pengetahuan.  Dengan tujuan-tujuan seperti didefinisikan oleh Al Faruqi: penguasaan disiplin ilmu modern, penguasaan warisan Islam, penentuan relevansi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern, pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan dan pengetahuan modern, pengerahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiah dari Allah.
Apabila ditelusuri kembali peran yang dimainkan antropologi budaya dan sosial dalam mengkaji fenomena-fenomena yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat yang sedikit banyaknya memiliki keterkaitan dengan kepercayaan-kepercayaan dan institusi-institusi yang ada dalam masyarakat, maka peran pendekatan antropologi paling tidak memberi kontribusi dan bermanfaat untuk :
1.    Memahami fenomena keagamaan yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari umat Islam
2.    Pemahaman yang tepat tentang ajaran agama dapat membangkitkan reaktualisasi ajaran-ajaran Islam
3.    Untuk dapat lebih memfungsikan peran agama dalam pembangunan secara nasional.
        Disamping itu hasil penelitian dengan pendekatan antropologi ini, akan dapat membantu upaya pengembangan kehidupan beragama dan sekaligus membantu perencanaan pembangunan kehidupan beragama umat Islam.

F. PENUTUP
Metode-metode yang digunakan untuk memahami Islam suatu saat nanti mungkin dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan adanya pendekatan baru yang harus terus digali oleh para pembaharu. Dalam konteks penelitian, pendekatan-pendekatan (approaches) ini tentu saja mengandung arti satuan dari teori, metode, dan teknik penelitian. Terdapat banyak pendekatan yang digunakan dalam memahami agama. Diantaranya adalah pendekatan teologis normative, antropologis, sosiologis, psikologis, historis, kebudayaan, dan pendekatan filosofis.      
Pendekatan manusia dalam memahami agama yang dimaksud adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama tersebut. Dalam memahami agama melalui pendekatan antropologi, maka dapat dilaksanakan dengan cara participan observation, yaitu berperan serta ke dalam masyarakat yang akan di teliti, guna melihat lebih dalam wujud praktek keagamaan dalam masyarakat tersebut.  Sebagai contoh apa yang dilakukan Clifford Greezt dalam meneliti keberadaan umat Islam di Pulau Jawa pada tahun 50-an dan penelitian ini telah dituliskan dalam buku The Religion of Java. Akan tetapi, hendaknya pendekatan antropologi ini tentu saja tetap berpegang kepada sumber hukum agama kita, yaitu Al Qur’an dan Hadits. Wallahu A’lam.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,  M. Amin, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet.I, 1996.
Abdullah, M. Yatimin, Studi Islam Kontemporer, Jakarta: Amzah, 2006.
Abdullah, Taufik dan Karim, M.Rusli, (ed), Metodologi Penelitian Agama,    Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1989.
Al-Faruqi, Ismail Raji, Islamisasi Pengetahuan¸ Bandung: Pustaka, 1984.
   Beck, Herman,  Metode Penelitian Agama, Yogyakarta : Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga,1990.
Husyain Amin Ahmad, Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2001.
    http://aminabd.wordpress.com/2011/01/14/urgensi-pendekatan-antropologi-untuk-studi-agama-dan-studi-islam/
  http://bloggersumut.net/ 2009/sejarah budaya-sejarah-sembilan-wali
   http://cabiklunik.blogspot.com, Achmad Fedyani Saifuddin, 2007, Orbituari: Pendekar itu Telah Pergi
http:// catilla.wordpress.com/tag/mistis/ 14 Jun 2011 ... Menurut Van Peursen dalam Strategi Kebudayaan, (1976), kebudayaan manusia berjalan melalui 3 fase : Fase Mistis, Fase Ontologis, dan ...

   Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 1996.
   Mudzhar, M. Atho, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001.
    Nasution, Harun, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jakarta: UI. Press, 1979.
    Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarat: PT. Raja Grafindo Persada, cetakan ketujuh, 2002.
   Permata Norma Ahmad, Metodologi Studi Agama, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.
   Soekanto Soerjono, Sosial Suatu Pengantar, Jakarta ; CV. Rajawali, 1982.
   Tim Penyusun Ensiklopedi, Ensiklopedi Nasional Indonesia , Jakarta: PT. Delta Pamungkas, 2004.
   Tim Penyusun Kamus, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Edisi Kedua, Jakarta : Balai Pustaka, Cetakan Kesepuluh, 1999.
   Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Edisi Keempat, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008. 
















REVIEW MAKALAH ANTROPOLOGI DALAM STUDI ISLAM
Dalam makalah ini ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, antara lain:
•    Teknik penulisannya masih terdapat kesalahan, yakni: catatan kaki yang belum sesuai dengan pedoman penulisan, jarak (spasi) dalam tulisan.
•    Dalam makalah terdapat kata “messianis”, namun penulis tidak memberikan pengertian dengan jelas, sehingga pembaca tidak memahami maksudnya.
•    Metode (cara) memahami agama melalui pendekatan antropologi, dalam makalah sebenarnya sudah tertulis, namun pemaparannya belum jelas, sehingga menimbulkan pertanyaan, bagaimana sebenarnya cara-cara yang dapat digunakan untuk memahami agama, dengan pendekatan antropologi?
•    Tidak perlu menampilkan contoh Tokugawa dan Shinto di Jepang sebagai salah satu contoh pendekatan antropologi dalam studi Islam, namun masih banyak contoh di nusantara yang dapat dimunculkan, namun dalam makalah ini contoh dakwahnya sunan kalijaga sudah mewakili.
•    Contoh kebudayaan Hindu yang sampai sekarang masih berlangsung di tengah-tengah masyarakat kita, tidak terdapat dalam makalah.

















PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM
STUDI ISLAM

Makalah diajukan untuk memenuhi tugas perkuliahan pada
mata kuliah Pendekatan Dalam Pengkajian Islam  (PDPI)







Oleh
M U R N I
NIM : 12 PEDI 2852

Dosen Pembimbing
Prof.DR. Nawir Yuslem, MA
PROGRAM PASCA SARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SUMATERA UTARA
MEDAN
2012





















































































































































STUDI SEJARAH DAN PENDEKATAN SEJARAH
Oleh: Muhammad Amin, S.Ag

A. Pendahuluan
Memahami Islam dari pendekatan sejarah merupakan hal terpenting agar tidak salah paham dengan tujuan Islam diturunkan Allah sebagai  agama  yang diridhaiNya dan Rahmat bagi seluruh alam. Banyak sekali ayat-ayat al  qur’an agar  kita  banyak memperhatikan sejarah-sejarah orang-orang terdahulu. Ada beberapa ayat  yang memerintahkan kita mempelajari sejarah dengan mempelajari sejarah paling tidak kita akan dapat mengambil pelajaran  yang bermanfaat untuk kehidupan ini.  Firman Allah SWT dalam Ar Rum ayat 9 artinya: “dan Apakah mereka tidak Mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. dan telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak Berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang Berlaku zalim kepada diri sendiri”.
Ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan perintah untuk memperhatikan tentang sejarah Oemar Bakri  dalam tafsirnya (Tafsir Rahmat) halaman 1310 mengutip ada 7 ayat  didalam  al-Qur’an, yaitu Q.S. Yusuf ayat 109,Q.s. Alfatihah ayat 7, father ayat 44, Al Mukmin ayat 21 dan 82 dan Ar Rum ayat 9 dan 42.     
Sejak Islam muncul  yang dibawa oleh Rasulullah SAW hingga saat ini, merupakan sejarah panjang  yang tak akan terputus, pasang surut peradaban  perlu kita teliti agar kita dapat meniru kunci sukses setiap perjuangan  pada masanya  begitu juga tak kalah menariknya sejarah keruntuhan peradaban  perlu kita  teliti agar sejarah tersebut tidak terulang lagi pada masa mendatang. Makalah ini akan membahas tentang apa penyebab maju dan mundurnya peradaban Islam dalam sejarah?, bagaimana reaksi Ilmuwan Islam dalam memperbaiki masa kemunduran peradaban Islam? Dan siapa Ilmuwan Islam (sejarawan islam) yang telah berjasa dalam bidang  Sejarah  Peradaban Islam.
Ketiga  permasalahan inilah yang akan dibahas, semoga dapat memberikan masukan untuk sejarah peradaban  islam kedepan.
Adapun  garis  besar pembahasan makalah ini adalah  a. Pendahuluan, b. membahas pengertian-pengertian yang berhubungan  dengan  sejarah, c. membahas tentang garis besar tentang sejarah Islam dalam 3 (tiga) periode  Islam dalam  tumbuh kembangnya serta runtuhnya peradaban islam dan d.  berupa penutup yaitu kesimpulan,  kemudianterakhir adalah Daftar Pustaka.
Demikianlah semoga  makalah singkat ini dapat  bermanfaat, saran dan kritikan  sahabat  dan sebagaia pembanding terlebih dahulu saya ucapkan  terimakasih.
 
B. Pengertian Istilah tarikh, sirah, hikayat, manaqib, tabaqat, tarajim dan ayyam.
Sejarah Islam pada dasarnya  dibagi pada 3 (tiga) periode, menurut Harun Nasution  dan Nouruzzaman yang dikutip oleh Dedi Supriyadai dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam bagwa yaitu Periode klasik (620-1250 M), Periode pertengahan (1250-1800 M) dan periode modern (1800 M- sekarang).  Sebelum kita jauh mengupas sejarah Islam alangkah baiknya kita perhatikan istilah-istilah berikut ini.
1. Tarikh
 Menurut  Abuddin Nata dan kawan-kawan dalam Ensiklopedi Islam perkataan "Tarikh"  itu adalah sistem penanggalan  Islam yang penghitungannya berdasarkan peredaran bulan dan juga ada yang berdasarkan peredaran matahari yang dikenal dengan  Syamsiah,  menurut bahasa  berarti era, kronologis penanggalan, karya sejarah  atau  sejarah itu sendiria.  Ada juga  yang berpendapat bahwa tarikh berarti penentuan awal berita khusus berdasarkan masa perhitungan zaman/waktu, dan penentuan waktu terjadinya peristiwa secara tepat. Sedangkan menurut istilah, pengertian tarikh adalah ilmu yang berusaha menggali peristiwa-peristiwa masa lalu agar tidak dilupakan. Jadi sejarah dalam pengertian history dan tarikh memiliki persamaan yaitu ilmu yang membahas peristiwa-peristiwa manusia dimasa lalu.
2. Sirah
.Sirah dari segi bahasa berarti jalan (at-thariq). Secara amnya, perkataan Sirah ini dikaitkan dengan kumpulan berita-berita yang diriwayatkan untuk menceritakan tentang kisah hidup Rasulullah SAW (as-Sirah an-Nabawiyah) yang meliputi nasab, keadaan baginda semasa didalam kandungan ibunya, kelahirannya dan lain-lain lagi keadaan yang berkaitan. Kumpulan berita-berita Sirah Rasulullah SAW ini dikuatkan lagi dengan penyandaran kepada berbagai Hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat, tabiin dan generasi sesudahnya. 
3. Hikayat
Pengertian “hikayat” didalam kamus  Mahmud Yunus hal.107 berarti cerita.   Dan didalam Ensiklopedi Islam  Hikayat adalah  karya satra lama Indonesia yang bercorak Islam  yang ada kalanya   mengandung unsur  sejarah fiksi murni atau gabungan degan kisah nyata. Hikayat ini  ditulis  bersumber dari lisan ke lisan  maka orisinilitasnya  tidak  terjamin. Hikayat adalah karya kreatif  hasil pemikiran dan daya khayal pengarangnya tetapi ada juga  merupakan hasil terjemahan  atau adaptasi dari luar. Contohnya Hikayat Baginda Rasul tatkala bulan dibelah dua, Hikayat harun Ar Rasyid,Hikayat  Raja-Raja Pasai, Hikayat Perang Salib (berisi ceita tentang motivasi masyarakat Aceh untuk jihad).
 Didalam budaya Melayu. Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa terutama dalam bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian, serta mukjizat tokoh utama.
4. Manaqib
Pengertian manaqib menurut kamus Munjib dan Kamus Lisanul ‘Arab, Manaqib adalah ungkapan kata jama’ yang berasal dari kata Manqibah artinya Atthoriqu fi al jabal jalan menuju gunung atau dapat diartikan dengan sebuah pengetahuan tentang akhlaq yang terpuji, akhlaqul karimah. Dari pengertian ini manaqib dapat diartikan sebuah upaya untuk mendapatkan limpahan kebaikan dari Allah SWT dengan cara memahami kebaikan-kebaikan para kekasih Allah yaitu para Aulia. Sebab para wali dicintai oleh Allah dan para wali sangat cinta kepada Allah. (Yuhibbuunallah wayubibbuhum).  
Didalam Ensiklopedi Islam mengartikan Manakib sebagai sebuah sejarah dan pengalaman spiritual seorang wali Allah Swt. yang di dalamnya terdapat cerita-cerita, ikhtisar hikayat, nasihat-nasihat serta peristiwa-peristiwa ajaib yang pernah dialami seorang syekh. biasanya bersifat menyanjung (hagiografi), semuanya ditulis oleh pengikut tarekat atau para pengagumnya dan dirangkum dari cerita yang bersumber dari murid-muridnya, orang terdekatnya, keluarga dan sahabat-sahabatnya contoh manakib Syekh Muhammad Saman, Manakib Syekh Abdul Kadir Jailani . 
 Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan  bahwa Manaqib adalah cerita kelebihan para Sholihin yang sampai pada tingkat karomah untuk dapat diteladani dan untuk dapat diambil keberkahan dari para sholihin tersebut.
5. Tabaqat
Menurut kamus bahasa, arti thabaqat adalah sekelompok orang yang hidup semasa atau dalam zaman yang berbeda namun mempunyai kapasitas-kualitas yang sama secara keilmuan, keahlian, atau profesinya. Menurut istilah ilmu hadis, thabaqat ialah kelompok orang yang semasa, sepantaran usianya, sama dalam periwayatan hadis atau dalam menerima hadis dari guru-gurunya. 
6. Ayyam
Didalam  kamus Arab- Indonesia oleh  Mahmud  Yunus  kata Ayyam  adalah bentuk jamak  dari kata yaumun yang berarti hari, waktu sehari.  Didalam Ensiklopedi islam  Ayyam  berarti  hari-hari bangsa Arab atau hari-hari perang orang Arab  antar kabilah . Peperangan itu  adakalnya disebutkan  dikarenakan tempatnya, waktu, nama orang, nama kabilah,nama hewan  atau nama lain yang melatar belakangi kejadian tersebut. Contoh  perang al Basus. Ternyata  al Basus adalah  nama seorang perempuan yang memiliki  ternak yang masuk pada wilayah kekuasaan  kabilah Taqlib  sehingga  terjadi  sebuah pertempuran.
7. Tarajim
Tarajim adalah kalimat jamak dari kata tarjuman  yang berarti  juru bahasa atau penterjemah sedangkan kata kerjanya adalalah tarjamahan yang berarti menterjemahkan. 
8. Sejarah
Menurut Mochtar  Efendi didalam  bukunya Ensiklopedi Agama Dan Filsafat Sejarah adalah ilmu yang  mencatat semua   kejadian yang terdahulu  serta latar belakangnya  seobyek mungkin.  Sejarah  berasal daripada perkataan Arab iaitu sajaratun yang bermaksud pokok atau salah silah keturunan atau asal usul sesuatu peristiwa atau kejadian. Sejarah dari sudut istilah ialah "rekod atau catatan yang berlaku pada masa dulu".

C. Historiografi Islam
1. Periode Klasik (620-1250 M)
Periode awal Islam dimulai sejak tahun 620-1250 M  yang disebut dengan periode klasik. Sejak kelahiran Islam  yang dibawa oleh Rasulullah SAW mengalami perkembangan yang sangat pesat walaupun cobaan, ancaman yang mereka hadapi sangat luar biasa. 13 tahun Rasulullah berdakwah di Mekah adalah merupakan  cikal bakal berkembangya agama Islam kemudian. Dari isi wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW di Mekah dapat diklasifikasikan  kepada 3 (tiga) kelompok, yaitu materi dakwah yang berkenaan  dengan tauhid, materi dakwah yang berkenaan dengan akhlak mulia dan materi dakwah yang berkenaan dengan membebaskan tirani orang-orang lemah. Sedangkan dari strategi dakwah rasulullah melakukan 2 (dua) tekhnik yaitu dakwah ssecara sembunyi dan terbuka. Dari segi objek dakwah rasulullah SAW  dimulai dari keluarga terdekat, sahabat dan kemudian orang-orang yang ada disekitarnya. Hal ini cukup menarik sekali kita teliti, apakah hal ini  masih relevan berdakwah pada abad sekarang ini?.
Rasulullah Saw kemudian Hijrah ke Madinah dan berdakwah disana selama lebih kurang 10 tahun dan materi dakwah sudah mulai berkembang kearah social, politik dan lain sebagainya pada saat ini banyak wahyu yang turun berkenaan hukum-hukum syariat yang lebih luas.. Ketika itu Islam memiliki pondisi  yang kua dikota madinah itu,  yang dikenal sebelumnya dengan kota Yatsrib ditandai dengan  kedatangan rasulullah SAW telah dinanti-nantikan mereka. Dari kesuksesan Rasulullah SAW memimpin  Madinah perlu pula kita kaji  kunci-kunci sukses Rasulullah SAW diantaranya mengapa Rasulullah SAW ditunggu kedatangannya dan Rasulullah mengapa ia  mesti hijrah kekota tersebut dan bagaimana rasulullah mengelola negeri itu?.
Adapun langkah Rasulullah  SAW di Madinah adalah membangun masjid dengan berbagai pungsinya, memupuk persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshor dan melindungi kota Madinah dari ancaman-ancaman  yang mengganggu kestabilan dengan melakukan perrjanjian-perja njian  dengan menjaga kestabilan untuk tidak saling mengganggu  sebagaimana tertuang dalam Piagam Madinah (Konstitusi Madinah).
Setelah Rasulullah SAW wafat pada tahun  632 M  kepemipinan Islam  dipimpin  oleh para sahabat-sahabatnya. Yang dikenal Khulafaur Rasyidin.  Kepemimpinan para sahabatnya ini  sudah dan mulai  goncang sejak pengangkatan  Abu Bakar diangkat dan mulai tampak jelas kegoncangan terjadi ketika pada masa Pengangakatan Usman bin Affan  dan terus  islam mulai terpecah belah  menjadi beberapa aliran,  pemikiran serta ilmu pengethuan . dari segi politik muncul Khawarij, Syiah dan murji’ah dari segi pemikiran muncul Jabbariah, Qadariah,  mu’tazilah dan Ahlus Sunnah wal Ajmaah. dari segi hukum muncul berbagai mazhab diantaranya mazhab Hanafi, Malliki, Syafii dan Hambali,  dan ilmu pengetahuan pun menjadi peradaban yang cemerlang di dunia pada saat itu.  Sejarah yang cukup panjang dan melelahkan ini berdampak sampai saat ini.
 Setelah Periode Khulafaur Rasyidin, kekhalifahan kepemimpinan Islam dibawah pimpinan Bani Umayyah yang kita kenal dengan  dinasti Umayyah Lebih kurang 90  Tahun (661-750 M). Pendiri dinasti ini adalah cicit Umayyah  yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan seorang  yang dikenal cerdas dan pernah menjadi seorang gubernur pada masa khalifah Umar bin Khatab.. Berawal peristiwa Tahkim dimana  khalifah Ali bin  Abi Thalib  berdamai dengan Muawiyah  bin Abu Sufyan untuk mengakhiri perang Siffin. Peristiwa inilah awal perpecahan yang nyata dalam islam. Pendukung Ali yang  tidak menerima keputusan ini dan tidak mendukung hasil  Tahkim ini  disebut golngan khawarij yaitu orang yang keluar  dan memisahkan diri.  Kemudian dari lapangan politik  berubah  pada persoalan-persoalan teologi tentang siapa yang kapir dan bukan kapir terhadap peristiwa  tahkim tersebut dan terus bergulir dan menjadi 3 (tiga) buah  yaitu aliran  khawarij, murjiah dan mu’tazilah, dan tentang    perbuatan manusia dalam lapangan teologi menjadi  tiga  aliran yaitu al  qodariah (free will), al  jabariah (predestination)  dan Ahlus  sunnah wal jamaah.  
Dan pada masa dinasti Umayyah inilah system demokrasi mulai pindah kepada system pemerintahan kerajaan Karena setelah meninggalnya Muawiyah bin Abi Sufyan  ia menunjuk langsung sebagai penggantinya yang bernama Yazid bin Umayyah dan seterusnya kekhalifahan digantikan secara turun temurun. Runtuhnya dinasti Umayyah disebabkan 2(dua) factor, yaitu secara internal  karena  kualitas kepemimpinan yang rendah,  adanya perebutan kekuasaan dikalangan keluarga,  dan secara eksternal diantaranya peralakuan yang kurang adil terhadap non arab (Mawali), dan adanya beberapa khalifah  yang berbuat zholim terhadap keluarga Khalifah Ali bin Abi Tholib  beserta pengikutnya dan banyaknya pejabat yang korup.
Adapun nilai positif  yang terjadi dimasa Dinasti Umayyah sebagaimana yang disebutkan Dr Arrasyidin dalam   buku PAI SMA kelas X yang dikeluarkan Kemenag Sumut pada tahun 2004 halaman 70  dan juga bias  dibaca pada buku Sejarah Peradaban dan Pemikiran Islam  yang ditulis  Abdul Karim dan Juga  baca Sejarah peradaban Islam  yang ditulis badri Yatim diantaranya dan :
1.Dinasti Umayyah telah berhasil mengembangkan Islam sampai  ke Asia, Afrika, bahkan Eropa (kekuasaan)
2. Umat Islam pada masa ini telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan  dan kebudayaan islam
3. Penataan sistim administrasi negara yang rapi dan pembentukan angkatan perang  yang tangguh menjadi  factor pendukung  terpenting dalam mempertahankan kekuasaan.
4. Nilai positif yang terbesar dari bangkit dan runtuhnya dinasti Umayyah adalah kita  harus meyakini  bahwa  Allah SWT  adalah pemilik kerajaan yang sesungguhnya.
Setelah berakhirnya Dinasti Uymayyahh  maka  berdirilah khilafah Bani Abbasiyah yang memimpin lebih kurang 508 tahun (750-1258 M). Pendirinya adalah dari Bani Abbas dkatakan dengan Bani Abbasiyah karena pendiri dinasti ini berasal dari keturunan Abbas yaitu pakcik Rasulullah SAW.
Pada masa dinasti Abbasiyah ini dipimpin beberapa orang khalifah. Khalifah yang pertama adalah Abdullah Assafah ibnu Muhammad ibnu Ali ibn Abdullah ibnu Abbas dan setelah khalifah ini wafat maka digantikan oleh Abu Ja’far al- Mansur sehingga ia dianggap pendiri khilafah ini.  dan  pada Abu Ja’far al Mansur inilah sendi-sendi khilafah Abbasiyah ditegakkan  dan seolah-olah ia adalah pendiri dinasti ini. dan  puncak kebudayaan pemerintahan ini  yang dikenal dengan  “Keemasan Islam” (Golden Age),  dan pada masa ini kekhilafahan yang  memimpin adalah  Khalifah Harun al-Rasyid, ia membangun  rumah sakit,  lembaga  pendidikan, kedokteran,  pemandian. Dan lain-lain. Dan pada  khalifah Ma’mun   dibangun  pula perpustakaan yang besar  yang bernama  Baitul Hikmah yang berpungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Inilah penghargaan besar Khalifah Makmun terhadap ilmu pengetahuan. Dan pada masa dinasti inilah  ilmu pengatahuan  dan kebudayaan maju dengan pesat ditandai dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan muslim  baik dibidang sain atau pun dibidang keagamaan.
Kehancuran bani Abbasiyah ini dimulai dengan ketidak pedulian  khalifah-khalifah sesudahnya untuk memajukan pemerintahan, mereka  lebih banyak memperkaya  diri sendiri dengan menikmati kemewahan yang pada akhirnya terjadilah kesenjangan dan  banyak daerah yang melepaskan diri dari kekuasaan. Dan berakhirnya  dinasti Abbasiyah  ini ketika pemerintahan dipimpin oleh Khalifah Al-Mu’tasim. Hulagukhan  menyerang   pemerintahan  ini.
2. Periode Pertengahan (1250-1800 M)
Dengan berakhirnya kekhilafahan  dinasti Abbasiyah maka sejarah islam masuk pada periode pertengahan ditandai dengan tidak ada lagi pusat pemerintahan Islam. Pemerintahan Islam menjadi terpecah belah dan saling melepaskan diri dan menjadi kerajaan-kerajaan kecil.  Dan pada periode  ini islam mengalami kemunduran dan ada 3 (tiga )  kerajaan besar pada masa ini, yaitu: 1. Kerajaan Turki Usmani (1300-1922 M) 2. Kerajaan Safawi (1501-1731 M) dan ke-3 adalah kerajaan Mughol/Mongol (1526-1858).
Ketiga kerajaan besar ini juga turut menyumbang peradaban  kepada dunia islam.  Islam  pada saat ini  telah telah masuk ke benua Eropa,
a.  Kerajan Turki Usmani (1300-1922 M)
Raja pertama kerajaan Turki Usmani ini adalah Usman I. kerajaan ini dipimpin oleh 39 Sulthan.  Kerajaan Usmani dapat meguasai berbagai daerah diantaranya di Asia: Armenis, Irak, Syiria,  Hijaz, dan Yaman. Di Afrika yaitu Mesir, Libia, Tunis,  dan Aljazair, di Eropa  yaitu Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Honggaria,dan Rumania. Namun setelah meninggalnya Sulaiman Agung  maka  mulailah satu demi satu wilayah kekuasan melepaskan  diri.
 Pada kerajaan Usmani perkembangan ilmu pengetahuan dan arsitektur sangat menonjol  sehingga banyak bangunan masjid yang sangat megah  seperti Masjid Al Muhammadi,  Masjid Agung Sulaiman dan Masjid Abi Ayub Al Anshari, masjid Aya Sopia yang dulunya adalah gereja ditutup dengan seni  kaligrafi . Adapun sumbangan peradaban islam dari kerajaann Usmani ini adalah
1. Bidang kemiliteran
2. Bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan
3. Bidang keagamaan, Mufti bisa menentukan hukuman memiiki legitimasi yang kuat. Hukuman kerajaan bisa tak berlaku jika bertentangan dengan keputusan Mufti.
Mengutip pendpat  Dr. Badri Yatim dalam bukunya Sejarah Peradaban Islam bahwa penyebab kemunduran Kerajaan Turki Usmani adalah diantaranya
1. Wilayah kekuasaan yang sangat luas
2.  Heterogenitas Penduduk
3.  Kelemahan para penguasa. (para sultan yang bepribadian buruk dan perbutan kekuasaan)
4.  Budaya Pungli
5.  Pemberontakan jeniseri
6.  Merosotnya ekonomi
7.  Terjadinya stagnasi Ilmu dan Tekhnoogi
1. Kerajaan Safawi  (1501-1731 M)
Pada waktu kerajaan Turki Usmani sudah mencapai puncak kejayaannya, kerajaan Safawi di Persia masih baru berdiri. Namun pada kenyataannya, kerajaan ini berkembang dengan cepat. Nama Safawi ini terus di pertahankan sampai tarekat Safawiyah menjadi suatu gerakan politik
dan menjadi sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Safawi. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering berselisih dengan kerajaan Turki Usmani 
Raja pertama kerajaan ini adalah Ismail I dan kemudian  silih berganti hingga 11 orang raja dan raja yang terakhir bernama Abbas III. Kerajaan ini menyatakan sebagai penganut Syi'ah dan dijadikan sebagai madzhab negara. Oleh karena itu, kerajaan Safawi dianggap sebagai peletak dasar pertama terbentuknya negara Iran dewasa ini .
Berikut urutan penguasa kerajaan Safawi :
1. Isma'il I (1501-1524 M), 2. Tahmasp I (1524-1576 M),3. Isma'il II (1576-1577 M)
4. Muhammad Khudabanda (1577-1587 M),  5. Abbas I (1587-1628 M),  6. Safi Mirza (1628-1642 M),  7. Abbas II (1642-1667 M), 8. Sulaiman (1667-1694 M),  9. Husein I (1694-1722 M), 10. Tahmasp II (1722-1732 M),  11. Abbas III (1732-1736 M).
Kerajaan Safawi juga  menyumbangkan  peradaban kepada dunia Islam. Sejarah mencatat bahwa Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kejayaan kerajaan Safawi. Ia berhasil mengatasi gejolak politik dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan sekaligus berhasil merebut kembali beberapa wilayah kekuasaan yang pernah direbut oleh kerajaan lain seperti Tabriz, Sirwan dan sebagainya yang sebelumnya lepas direbut oleh kerajaan usmani.
Menurut Usman dalam Blogspotnya (usman wwwmaalkhidmah.blogspot.com//)bahwa                           “Kemajuan yang di capai kerajaan Safawi tidak hanya terbatas di bidang politik, melainkan bidang lainnya juga mangalami kemajuan. Kemajuan-kemajaun itu antara lain :
1. Bidang Ekonomi
Kemajuan ekonomi pada masa itu bermula dengan penguasaan atas kepulauan Hurmuz dan pelabuhan Gumrun yang diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan demikian Safawiyah menguasai jalur perdagangan antara Barat dan Timur. Di samping sector perdagangan, Safawiyah juga mengalami kemajuan dalam bidang pertanian, terutama hasil pertanian dari daerah Bulan Sabit yang sangat subur (Fertille Crescent).
2. Bidang Ilmu Pengatahuan
Sepanjang sejarah Islam Persia di kenal sebagai bangsa yang telah berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sejumlah ilmuan yang selalu hadir di majlis istana yaitu Baha al-Dina al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar al-Din al-Syaerazi, filosof, dan Muhammad al-Baqir Ibn Muhammad Damad, filosof, ahli sejarah, teolog dan seorang yang pernah pernah mengadakan observasi tentang kehidupan lebah (Brockelmann, 1974:503-504).
3. Bidang Pembangunan Fisik dan Seni
Kemajuan bidang seni arsitektur ditandai dengan berdirinya sejumlah bangunan megah yang memperindah Isfahan sebagai ibu kota kerajaan ini. Sejumlah masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan yang memanjang diatas Zende Rud dan Istana Chihil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan kebun wisata yang tertata apik. Ketika Abbas I wafat, di Isfahan terdapat sejumlah 162 masjid, 48 akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum. Unsur lainnya terlihat dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, permadani dan benda seni lainnya.
Dan menurut Badri Yatim dalam Sejarah Peradaban Islam  halaman 158 bahwa penyebab kemundurannaya dan kehancuran kerajaan Safawi adalah: 
1.Adanya konflik yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani. Berdirinya kerajaan Safawi yang bermadzhab Syi'ah merupakan ancaman bagi kerajaan Usmani, sehingga tidak pernah ada perdamaian antara dua kerajaan besar ini.
2.Terjadinya dekandensi moral yang melanda sebagian pemimpin kerajaaan Safawi, yang juga ikut mempercepat proses kehancuran kerajaan ini. Raja Sulaiman yang pecandu narkotik dan menyenangi kehidupan malam selama tujuh tahun tidak pernah sekalipun ssmenyempatkan diri menangani pemerintahan, begitu pula dengan sultan Husein.  
3.Pasukan ghulam (budak-budak) yang dibentuk Abbas I ternyata tidak memiliki semangat perjuangan yang tinggi . Hal ini dikarenakan mereka tidak memiliki ketahanan mental karena tidak dipersiapkan secara terlatih dan tidak memiliki bekal rohani. Kemerosotan aspek kemiliteran ini sangat besar pengaruhnya terhadap lenyapnya ketahanan dan pertahanan kerajaan Safawi.
4.Seringnya terjadi konflik intern dalam bentuk perebutan kekuasaan dikalangan keluarga” .

2. Kerajaan Mughol/Mongol
Kerajaan Mongol dindia juga tak kalah pentingnya mencatat sjarah  peradaban islam. Pada mulanya  bangsa Mongol pada zaman Jengis Khan dan Khulagu Khan adalah pemusnah dan perusak islam, namun sebaliknya keturunan mereka  dizaman Babur, Akbar dan keturunannya  memberikan  pengaruh yang sangat besar terhadap peradaban islam.
1. Zahiruddin Babur (1504-1530)
Ia  diangkat menjadi sulthan pada tahun 1526  M setelah ia menaklukkan  Sulthan Ibrahim II  dari keluarga Lodi di Delhi India dengan pertempuran dahsyat. Kemudian ia digantikan anaknya yang bernama Humayun.
2.  Humayun (1530-1556)
Humayun pernah meminta bantuan raja Persi ketika ia dikalahkan  oleh raja  Cunar, namun  ia kembali dapat menaklukkkan kembali ia berhasil menguasai India utara. Setelah ia meninggal dunia ia digantikan  oleh putranya  Sultan Akbar Agung.
3. Sultan Akbar Agung (1556-1605)
Ia diangkat menjadi Sultan dalam usia 15  tahun.  Banyak raja-raja yang takuk dibawah kekuasaanya namuia lebih bijaksana dibandingkan raja-raja sebelumnya. Ia merangkul  musuhnya dengan bijaksana  untuk  bertanggungjawab terhaap  untuk memelihara daerahnya masing-masing. Yang sangat menarik adalah walaupun ia bermazhab Ahlussunnah namun ia tetap melindungi  mazhab Syiah bahkan mengangkat  seorang penasehat dari kelompok Syiah  yang bernama Syekh  Fatullah Syiraji.  Setelah meniggalnya  Sultan ini maka kesultanan  digantikan oleh  Jihangir.
4. Jihangir (1605-1627)
Jihangir bermazhab  Ahlussunnah dan bahasa Persia dijadikan bahasa resmi kerajaaan. Ia sempat dilawan oleh putranya sendiri.  Kerajaan  dibawah kekuasaan nya mengalami  kemunduran. Ia sempat dipenjara oleh anaknya  yang bernama Khuram dan berakhir dengan diangkatnya Khuram sebagai sultan Penggantinya dengan gelar Syah jehan..
5. Syah Jehan (1627-1657 M)
Syah jehan ketika ajalnya ia berada dalam tahanan anaknya karena anaknya  memperebutkan kekuasan.  Pada kekuaan Syah jehan  bidang seni melebihi dari  Bizantium  dizaman Kaisar Yustinus, diantaranya bangunan  Tajmahal di Agra India. Karena ia sangat mencintai permaisurinya yang bernama begumtj Mahal. Bangunan ini selesai selama 22 tahun dan dibangun oleh 20.000 orang.
Sepeninggal Syah Jehan ini kesuatanan digantikan oleh Aurangzeb.
6.  Aurangzeb  (1657-1707 M)
Pada masa syah Jehan  walaupun dalam bidang seni tampak maju namun  didalam  kekuasaan ia  tampak lemah, ini terindikasi banyaknya daerah-daerah yang melepaskan diri dari kekuasaannya. Oleh sebab itulah  pertempuran  banyak terjadi melawan mereka yang berani melepaskan diri dari kerajaannya.. Pada tahun 1690 M kerajaanya  sangat luas, meliputi  wilayah  Afganistan dan hampir seluruh India. Namun pemerintahannya  tidak senyaman  pemerintahan kakeknya pada masa ini sering terjadi pemberontakan di daerah-daerah. Aurangzeb wafat dalam usia 89 tahun pada than 1787 M. dan penganti-penganti setelahnya termasuk raja-raja yang lemah. Berikut ini adalah nama-nama raja  kerajaan Mongol:
Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530), Humayun (1530-1556), Akbar Syah I  (1556-1605)Jahangir (Nuruddin Muhammad Sultan Salim) (1605-1627), Syah Jehan (1627-1658), Auraqngzeb (Alamgir) (1658-1707), Bahadur Syah I (1707-1712), Jihandar Syah (1712), Farukh Siyar (1712-1719), Muhammad (1719-1748), Ahmad (1748-1754), Alamgir II (1754-1759), Baharuddin Syah II (1759-1806), Akbar II (1806-1858), Bahadur Syah (1858).
Adapun sebab –sebab kemunduran kerajaan Mongol ini, menurut Dr. Badri Yatim dalam Sejarah Peradaban Islam adalah
1.Terjadinya Stagnasi  dalam pembinaan  kekuatan militer sehingga operasi militer  Inggris  di wilayah-wilayah pantai  tidak terpantau  leh kekuatan maritime  Mongol.
2. Kemerosotan  moral  elit politik yang mengakibatkan pemborosan uang Negara.
3. Pendekatan Aurang Zeb yang terlalu kasar sehingga konflik antar agma sulit diatasi oleh sultan sesudahnya.
4.  Semua pewaris  tahta kerajaan adalh orang-orang lemah dalam memimpin kerajaan.
3.  Periode Modern (1800 M – sekarang)
Perkembangan Islam pada periode Moderen ini, Umat Islam melakukan pembaharuan  dalam berbagai hal karena telah disadari betapa jauh tertinggalnya umat Islam dari dunia barat. Ketertinggalan umat islam disadari karena sudah banyaknya   penyimpangan-penyimpangan ajaran agama  yang dilakukan umat Islam  maka muncullah berbagai cendikiwan muslim  dalam bidang pembaharuan Islam. Sultan Mahammad II (1785-1839 M) dari kesultanan Turki Usmani melakukan  terobosan  dari ketertinggalan  dunia barat dengan melakukan
1. Melakukan  modernisasi dalam bidang pendidikan dan pengajaran dnegan memasukkan pengetahuan umum kedalam lembaga-lembaga pendidikan Islam
2. Lembaga pendidikan “ Mektebi Ma’arif” untuk bidang adaministrasi dan lembaga “Mektebi Ulumi Edebiyet” untuk mencetak para ahli dibidanag penerjemah.
3.  Mendirikan perguruan tinggi dibidang kedokteran, militer dan tekhnologi.
 Di India mucul pemikir-pemikir Pembaharuan Islam yaitu Syah Waliyullah (1703-1762 M), Sayid Ahmad Khan (1871-1898 M), Sayid Amir Ali (1849-1928 M), Muhammad Iqbal (1873-1938), Muhammad Ali Jinnah (1876-1948 M) dan Abdul Kalam Azad (1888-1956 M).
 Di Arab Saudi  Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787) yang dikenal dengan Wahabi Di Turki Sultan Mahmud II,  di Mesir Muhammad Ali Pasya (1765-1849) Muhammad Abduh(1849-1905) , At Tahtawi(1801-1873), di Afganistan Jamaluddin Al afgani (1839-1897) dan juga Muhammad  Rasyid Ridha (1865-1935).
 Syah Waliyullah (1703-1762 M)  berpendapat bahwa kemunduran umat islam  disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Terjadinya perubahan pemerintahan Islam dari system kekhalifahan menjadi kerajaan.
2.  Sistem  demokrasi diganti dengan system monarki absolut
3.  Perpecahan umat  islam  yang disebabkanoleh berbagai pertentangan aliran dalam islam
4.  Adat istiadat yang bukan islam  sudah masuk kedalam keyakinan umat.
Pembaharuan ini dilakukan dari berbagai aspek baik  keagamaan, militer , politik, ekonomi,  sosial dan budaya. Dan pada akhirnya juga pembaharuan ini  sampai  merembes keseluruh dunia Islam.Namun dunia Islam sekarang ini masih dalam kelompok dunia ke tiga.

4. Tokoh-tokoh  Sejarawan Muslim terkemuka dan karya-karyanya
Pada pembahasan ini hanya sebagian  ilmuwan  muslim  yang ditulis   pada makalah ini karena  dianggap    mereka juga yang mempengaruhi peradaban islam dalam  bidang  ilmu pengetahuan. Adapun  sejarawan muslim  yang terkenal diantaranya:
1. Ibnu al-Tabari (839-932 M)

Dalam Ensiklopedi Islam  Al Thabari kedalam salah satu ahli sejarah Islam. Ibnu al-Tabari ialah sejarawan dan ahli tafsir terkemuka kelahiran Tabaristan (Iran). Nama lengkapnya ialah Abu Jaafar Muhammad bin Jarir al-Tabari. Namun beliau terkenal dengan nama al-Tabari atau Ibnu Jarir al-Tabari.Beliau dilahirkan pada 225 H/839 M di Amul, Tabaristan (Iran). Daerah itu merupakan tempat berkembangnya kebudayaan Islam. Namun beliau lebih banyak menghabiskan waktunya di Baghdad. Di sana, beliau pernah dipilih menjadi hakim tetapi menolaknya. Ketika berusia 85 tahun, beliau meninggal dunia di Baghdad pada 310 H/923 M. Kitab tafsirnya yang paling terkenal adalah Jami ‘al-Bayan fi Tafsir al-Quran atau Tafsir al-Tabari.Kitab itu berkisar tentang tafsir hukum (fikah) kerana beliau juga merupakan fuqaha terkemuka melalui karyanya Ikhtilaf al-Fuqaha, (perbezaan pendapat para ulama). Ketika menulis kitab Tafsir al-Tabari, beliau mengumpulkan bahan tentang tafsir bi al-ma’sur (tafsir al-Quran dengan al-Quran, hadis dan ijtihad sahabat).
Kitab itu mengandungi penemuan hukum akidah dan fikah yang disimpulkan daripada al-Quran. Hingga kini kitab itu menjadi bahan untuk mendalami beberapa kenyataan dalam filologi.
Karya sejarah al-Tabari yang terkenal adalah Tarikh al-Rusul wa al-Muluk atau dikenali dengan nama Tarikh al-Tabari. Kitab itu dianggap sebagai kitab sejarah Islam terlengkap. Dalam kitab itu dimuatkan maklumat yang tidak pernah ditulis oleh sejarawan sebelumnya. Isi kitab itu terbahagi kepada dua bahagian. Bahagian pertama mengandungi sejarah Arab, Parsi dan Roma sebelum Islam. Bahagian kedua mengandungi sejarah pasca-Islam. Kitab sejarah al-Tabari itu hingga kini menjadi rujukan dan diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa.
2. Al-Jāḥiẓ (781–Desember 868/Januari 869)
Ia adalah seorang cendekiawan Afrika-Arab yang berasal dari Afrika Timur. Ia merupakan sastrawan Arab dan memiliki karya-karya dalam bidang literatur Arab, biologi, zoologi, sejarah, filsafat, psikologi, Teologi Mu’taziliyah, dan polemik-polemik politik religi.
3. Abul Hasan Ali Al-Masu’di  ( wafat 957)
merupakan salah seorang pakar sains Islam yang meninggal pada tahun 957. Dilahirkan di Baghdad, dia juga merupakan seorang ahli sejarah, geografi dan falsafah. Dia pernah mengembara ke Sepanyol, Rusia, India, Sri Lanka dan China serta menghabiskan umurnya di Syiria dan Mesir. Dia berasal dari keturunan sahabat Nabi Muhammad, Abdullah bin Mas’ud. Bukunya Muruj adh-Dhahab wa Ma’adin al-Jawahir (Padang Emas dan Lombong Manikam) yang ditulis pada 943, merupakan himpunan kisah perjalanan dan pembelajarannya. Ia menyentuh aspek sosial dan kesusasteraan sejarah, perbincangan mengenai agama dan penerangan geografi. Dia juga menulis buku Al-Tanbih wa al-Ashraf, yang merupakan buku terakhirnya.
4.  Al Biruni (973-1048 M)
Albiruni adalah ahli berbagai bidang diantaranya matematika, farmasi, filsafat, astronomi dan sejarawan. Ia merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan. Abu Raihan Al-Biruni dilahirkan di Khawarazmi, Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau Aral di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur. Abu Raihan Al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina/Ibnu Sina, sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al Abbas Ma’mun Khawarazmshah. Dia lahir 15 September 973 dan meninggal 13 Desember 1048. Bidang lain: Astronomy, Mathematics, determined Earth’s circumference.
5. Ibnu Kholdun  (1332-1406 M)
Ia seorang sejarawan, pendidik ulung, pendiri filsafat sejarah dan sosiologi. Ibnu Khaldun, lahir 27 Mei 1332/732H, wafat 19 Maret 1406/808H) adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan).  Muqoddimah adalah  salah satu jilid dari 7 jilid dari kitabya yang berjudul  Al Ibar wad dwan al mubtada  wal Khabar  Fi Ayyam  al arab  wal ‘ajam  wal bar-bar terbitan cairo 780 H/1378 M. dan masih banyak karyanya yang lain .
Ibnu Kholdun dan keluarganya berasal dari Arab Andalusia yang jejak nenek moyangnya  dari Bani Kindah ia dilahirkan di Tunis. Karena karyanya ini ia dijuluki bapak Sosiologi  Politik Islam. Dan ada juga yang mengatakan bahwa ia adalah ahli sejarah dan yang pertama kali menulis  secara ilmiah  mengenai teori pengembangan   kesejarahan  yang berdasarkan  pengetahuannya akan keadaan  fakta fisik berupa iklim  yang dikombinasikan  dengan daya moral  dan spiritual  dalam pekerjaan  yang dihasilkan  oleh para  penduduk  diberbagai daerah.
6. Said Al-Andalusí (Almería, 1029 – Toledo, 1070) “Al-Tulaytuli” (dari Toledo)
Ia adalah seorang qadi, ilmuwan dan sejarawan Al-Andalus. Karyanya yang terkenal sejarawan. Karyanya yang lain adalah Kumpulan Sejarah Bangsa Arab dan Non-Arab, dan Koreksi Pergerakan Bintang-Bintang.
Dikutip dari  Tulisan Muchtar Efendi dalam bukunya Ensiklopedi Agama dan Filsafat tentang Ahli sejarah ada beberapa  Ahli sejarah disini penulis meringkas untuk menyesuaikan  lembar makalah I I  yaitu  Ibnu Maskawaih (941-1030 M) Karyanya antara lain  adalah Tajarub  Ummah, dll, Ibnu Khalikan (1211-1282 H) Karyanya antara lain adalah Wafayat al ayyam  wa anba  az Zaman, Ibnu Kasir (1300-1373 M) diantara karyanya adalah Al Bidayah wal Hinayah, Al Fusul  fi Sirah ar Rasul, selain itu ahli sejarah yang lain Ibnu Ishak, Ibnu Hashim,  Ibnu Athir, Abu Fida, Al Waqidi, Almaqrisi dan ibnu Asakir.
 
Penutup
Kesimpulan
 Pembahasan  Sejarah Peradaban Islam  pada tiga periode tentu sangat panjang, tentu makalah sederhana ini tidak dapat  mengakomodir secara detail namun dapat disimpulkan bahwa penyebab maju dan mundurnya peradaban Islam dalam Sejarah   disebabkan dua faktor yaitu fator internal dan eksternal kekuasaan. Penyebaran dakwah islam dengan berbagai cara dapat  memperluas  kekuasaan  islam, Islam pun  bisa maju bahkan memiliki peradaban yang sangat maju dikala itu. Namun  sekarang. hanya tinggal kenangan.  Perpecahan terus terjadi ditambah lagi  keserakahan  membuat  Islam  mengalami kemunduran.  Perpecahan  bidang politik, aliran teologi dan munculnya  berbagai mazhab, hal ini harus  disikapi dengan arif dan bijaksana, agar tidak saling mengklaim dirinya dan kelompoknya yang benar sedangkan  yang  lain dianggap salah dan sesat. Menarik  sekali  reaksi dari mundurnya peradaban islam  maka muncullah  beberapa orang pembaharu (mujaddid) dalam sejarah   ini menyatukan  umat dan membangun peradaban yng maju. Mereka berani berfikir beda dengan para pendahulu-pendahulunya, mereka melakukan terobosan-terobosan  yang belum pernah dilakukan oleh  kebanyakan para ulama terdahulu  walaupun  mereka berbuat  banyak menerima hujatan tetapi mereka tetap tegar  melaksanakan  dakwah-dakwahnya.
Abad ke-19 ini telah mulai melakukan perubahan-perubahan abad kebangkitan Islam , ditandai dengan banyaknya negara Islam yang melepaska diri dari penjajah. dan mulai sadar akan ketertinggalan  ilmu pengetahuan dan tekhnologi dari negara barat.
Adapun sejarawan dengan karya-karya mereka  yang  telah ditulis didalam berbagai  judul merupakan sumbangsih bagi mereka untuk generasi sesudahya seolah mereka berkata  belajarlah dari sejarah agar  kita tidak mengalami kemunduran  peradaban.
 
Daftar Pustaka
    Al Rasyidin, et. al. Pendidikan Agama Islam kelas x. Medan: PT. Cipta Prima Budaya, 2004.
    Aminuddin, et. al, Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
    Asari, Hasan. Mengungkap  Zaman  Keemasan. Bandung: Cita Pustaka, 2007.
    Bakri, Oemar. Tafsir Rahmat.Jakarta: Mutiara. Cet.3, 1984.
    Supriyadi, dedi. Sejarah Peradaban Islam.Bandung: CV. Pustaka Setia, Cet. 10, 2008
    Efendi,  Mochtar. Ensiklopedi Agama dan Filsafat. Palembang: Univeritas  Sriwijaya, Jil.5, 2001
    Glasse, Cyril. The Concise Einsclopaedia,Terj. Ghufron A. Mas’adi. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.
    Karim, M. Abdul. Sejarah  Pemikiran dan Peradaban Islam. Yokyakarta: Pustaka book    Publisher, 2007.
    lewis, Bernard. Islam   in  History. Open courtpublishing, 2001.
Masyithah,  “Kerajaan Safawi di Persia” dalam, Ittihad Jurnal Kopertis Wilayah XI Kalimantan, Vol. 5, No.7, (7 april 2007)
    Maududi, Abul A’la. Khilafah dan  Kerajaan. Bandung: Mizan, Cet. VI, 1996.
    Nasution, Harun. Theologi Islam. Jakarta: UI Pres, cet.1, 1997.
    _____________. Pembaharuan Dalam Islam. Jakarta: Bulan bintang, 1996.
    Nata, Abuddin, et al. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeven, 2003.
    Razi, Muhammad, 50 Ilmuwan Populer, Tanggerang, Cet. 2, 2006.
    Sou’yb, Joesoef. Sejarah Daulah Bani Umayyah.Jakarta: Bulan bintang,  …
    Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik. Jakarta Timur: Prenada Media, 2003.
    Syarif, M. Para Filosof Muslim. Bandung: Mizan, cet.V,   1993.
        Yatim, Badri. Sejarah peradaban Islam. Bandung, Rajawali Pers, cet. 22, 2010.
    Yunus, Mahmud. Kamus arab –Indonesia.Jakarta: Penyelenggara Penaf. Al quran, cet.1973.