Muqaddimah

Alhamdulillah Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita hambaNya berbagai kenikmatan yang mustahil dapat dihitung jumlahnya. Shalawat dan Salam Atas Nabi Muhammad SAW, semoga kita diakui menjadi ummatnya dan mendapat syafa'at di hari kiamat insyaAllah. Inilah sisi lain dari Jihad, jihad yang digambarkan Al Quran dengan dua cara "Bil-Amwal" dan "Bil-Anfus". Mendedikasikan Waktu, tenaga, pikiran dan perasaan untuk menjalankan Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah adalah bagian penting dari proses "Jihad" itu sendiri. Semoga Allah Meridho'i Niat dan Amal Perbuatan kita, tetap Istiqomah, Amanah seraya tidak melupakan Muhasabah di setiap detik dan kesempatan.
(Untuk Pendamping hidupku :Farida Shafwatun Nisa, dan Ketiga Permata hatiku :Faiq Afiful Azam, Wafa Zirwatul Husna & Wifa Zaniratul Haura)

Minggu, 01 April 2012

SYUKUR, PENAMBAH NIKMAT PENOLAK AZAB



Syukur : Penambah Nikmat Penolak Azab

Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya danjuga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu.
Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS, "Ya Nabiullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya. Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, "saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja"!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, "Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu. Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, "wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Ya Nabiallah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya", jawab si kaya itu. Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya.

Bersyukur adalah wujud kegembiraan dan kepasrahan dalam menerima segala ketentuan Allah, bersyukur tidak hanya dilakukan setiap kali kita mendapatkan Ni’mat dari Allah yang sering kita ma’nai dengan Mendapatkan Rizki, Bersyukur dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja hingga disaat kita terbebas dari sebuah musibah bersyukur adalah keharusan.

Bersyukur serasa ringan untuk dikerjakan namun sangat sulit pada penerapan, banyak dari kita yang kurang mensyukuri ni’mat Allah apalagi sempat mensyukuri azab yang tak jadi mendekat, padahal sebagaimana dekatnya kasih sayang Allah begitu pulalah dekatnya Azab Allah, di dalam al-Quran Allah menggambarkan betapa kecilnya rasa syukur seorang hamba kepada kholiknya,

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang Telah menimpanya. begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (Q.S.Yunus : 12)

Ayat ini menggambarkan seolah-olah kita sebagai hamba tidak butuh kepada Pencipta kita, kebutuhan itu baru muncul saat kita ditimpa musibah, saat keburukan melanda, bencana alam, gempa, angin puting beliung, tsunami, banjir dan bencana-bencana lainnya yang dalam ayat diatas disebut dengan yang berarti bencana, lantas apakah kita hanya membutuhkan Allah disaat bencana melanda kita? Atau apakah kita bersyukur hanya jika Allah memberi ni’mat kepada kita? Atau kita tidak bersyukur sama sekali?

Berapa banyak permisalan-permisalan yang Allah buat bagi hamba-hambaNya yang tidak mau bersyukur kepadaNya, Kaum A’ad Allah datangkan Azab dari langit berupa hujan batu, Kaum Tsamud Allah berikan Azab berupa Banjir bandang, Kaum Luth Allah Azab dengan Gempa dan Tanah Longsor, Kaum Iram Allah benamkan Kedalam tanah, Negeri Saba’ yang indah nan makmur rata disapu banjir besar, Kaum Nuh Allah tenggelamkan dalam air bah setinggi gunung, demikianlah Allah jadikan bermacam-macam permisalan bagi kita, Allah SWT berfirman :

Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian[841] kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.
(Q.S.An-Nahl 112)

Permisalan-permisalan yang Allah buat adalah sebuah peringatan bagi orang-orang yang berfikir dan orang-orang yang suka lalai bersyukur kepada Allah, Syukur adalah wujud kegembiraan dan kepasrahan terhadap ketentuan Allah, dengan senantiasa bergembira dan pasrah sesungguhnya kegembiraan dan kepasrahan itu adalah  milik kita dan akan kembali kepada kita, bukankah Allah telah menegaskan dalam al-Quran Surat Luqman Ayat 12

Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (Q.S.Luqman : 12)

Betapa jelas permisalan dan peringatan yang Allah gambarkan kepada kita, kelalaian dan kealfaan kita untuk bersyukur dan keengganan kita untuk mempercayai apa yang Allah peringatkan kepada kita adalah sumber utama terjadinya bencana-bencana yang sering kita lihat menimpa saudara-saudara kita, Allah telah menggambarkan waktu dan saat-saat datangnya bencana, dalam surah Al-A’raf ayat 97-98  Allah SWT berfirman

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

(Q.S.Al-A’raf : 97-98)

Apakah kita saat ini merasa aman dan tidak khawatir akan datangnya Adzab dan Musibah kepada kita? Apakah saat ini kita belum berfikir akan datangnya musibah dimalam hari disaat kita terlelap dalam tidur kita? Atau apakah kita saat ini belum menyadari kalau pada suatu saat akan terjadi bencana yang akan menimpa kita?

Saat ini, kita belumlah tertimpa musibah sebagaimana yang menimpa saudara-saudara kita, namun apaka itu berarti kita akan terbebas dari musibah?, ingatlah ketika Allah menegaskan sebuah Ayat dalam Surah Ibrahim ayat 7, Allah SWT berfirman :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(Q.S.Ibrahim : 7)

Kalimat "La-in" pada ayat diatas adalah sebuah Syarat akan terjadiya sesuatu, dan ini adalah sebuah analogi : Jika kamu bersyukur maka Aku kata Allah niscaya akan menambah apa-apa yang telah Allah berikan kepada kita . Jika kamu kufur maka sesungguhnya azabKu kata Allah amatlah pedih. Jadi jika Syukur adalah syarat datangnya dan ditambahnya ni’mat maka tidak diragukan lagi Kufur adalah syarat datangnya Adzab, dan adzab yang datang telah Allah jelaskan adalah adzab yang sangat pedih.

Untuk itu marilah kita berintrospeksi, bermuhasabah, melihat kedalam diri kita, adakah kita telah melaksanakan kewajiban kita sebagai hamba Allah yaitu bersyukur? Jika hal itu belum kita lakukan marilah kita bersama saling menasehati saudara-saudara kita dan mengajak mereka untuk bersyukur kepada Allah, karena walaupun kita bersyukur dan berbuat kebaikan namun kita tidak mengajak saudara-saudar kita lainnya untuk bersyukur dan berbuat kebaikan sebagaimana yang kita lakukan maka hendaklah kita berhati-hati karena adzab Allah tidak hanya menimpa saudara-saudara yang ada disekeliling kita namun kita yang berada ditengah-tengah mereka juga akan ikut merasakannya, bukankah Allah telah mengingatkan kita untuk hal ini? Allah SWT berfirman :

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Q.S.Al-Anfal  : 25)

Mari, kita menghindari Adzab dan musibah yang Allah turunkan, dan cara menghindarinya tidak hanya dengan cara berbuat baik dengan diri kita saja, namun hendak pula mengajak orang disekitar kita untuk berbuat kebaikan yang sama, dan kunci utama untuk menghindari musibah adalah SYUKUR karena hanya dengan SYUKUR lah kita mampu menghindari KUFUR dan dengan terhindarnya kita dari KUFUR maka terhindarlah pula kita dari ADZAB Allah yang pedih.

Semoga Tulisan yang singkat ini dapat bermanfaat bagi kita semua umumnya dan bagi diri saya pribadi khususnya, kepada Allah kita berserah diri dan mohon ampunan.

Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Q.S.Al-A’raf  : 179)


1 komentar:

  1. Syukur merupakan satu-satunya jalan menghindari Kufur...

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...