Muqaddimah

Alhamdulillah Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita hambaNya berbagai kenikmatan yang mustahil dapat dihitung jumlahnya. Shalawat dan Salam Atas Nabi Muhammad SAW, semoga kita diakui menjadi ummatnya dan mendapat syafa'at di hari kiamat insyaAllah. Inilah sisi lain dari Jihad, jihad yang digambarkan Al Quran dengan dua cara "Bil-Amwal" dan "Bil-Anfus". Mendedikasikan Waktu, tenaga, pikiran dan perasaan untuk menjalankan Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah adalah bagian penting dari proses "Jihad" itu sendiri. Semoga Allah Meridho'i Niat dan Amal Perbuatan kita, tetap Istiqomah, Amanah seraya tidak melupakan Muhasabah di setiap detik dan kesempatan.
(Untuk Pendamping hidupku :Farida Shafwatun Nisa, dan Ketiga Permata hatiku :Faiq Afiful Azam, Wafa Zirwatul Husna & Wifa Zaniratul Haura)

Jumat, 06 April 2012

MENYADARI POTENSI MERAIH PRESTASI



Menyadari Potensi Meraih Prestasi

Suatu hari di Masjidil Haram seorang Guru tengah menyampaikan Ilmu kepada murid-muridnya dengan lugas, jelas dan Komunikatif, guru tersebut mengajarkan materi Fiqih, Mu’amalah, Jinayah dan mas’alah hukum lainnya, namun ada yang ganjil dalam majelis itu,
sang Guru kelihatan jauh lebih muda dari murid-muridnya, bahkan ditengah prosesi belajar sang Guru selalu minta izin untuk minum padaha saat itu adalah Bulan Ramadhan, hal ini menuai protes dari para muridnya yang mengajukan pertanyaan :”Kenapa anda minum padahal ini kan bulan ramadhan?”, dengan santainya sang Guru menjawab : “Aku belum wajib berpuasa”.

Sang Guru tersebut adalah Muhammad Idris As-Syafi’I yang lebih dikenal dengan Imam Syafi’I, yang pada saat itu masih berusia 9 tahun. Beliau telah menghafal Al-Quran diusianya yang sembilan tahun dan menghafal kitab Muwattho’nya Imam Malik di Usia sepuluh tahun dan menjadi Mufti (pemberi Fatwa/keputusan tentang Hukum) pada usianya yang ke-15.

Setiap kita memiliki Potensi dalam diri kita masing-masing, hal ini seiring dengan penciptaan akal yang diberikan sebagai bekal bagi setiap Manusia, namun tidak semua kita menyadari akan keberadaan Potensi pada diri kita, Biasanya kita baru sadar akan Potensi kita setelah Manghasilkan suatu karya, atau setelah mendapat pujian dan ucapan kekaguman orang disekitar kita, atau yang paling dekat dengan diri kita adalah setelah kita mampu menghasilkan angka-angka yang baik setela pelaksanaan ujian.
Padahal potensi diri kita bukanlah sekedar nilai atau deretan angka yang ada pada raport atau buku laporan nilai kita, Namun Potensi adalah setiap Kemampuan yang kita miliki untuk melakukan sesuatu dan sesuai dengan apa yang kita minati.

Saat ini kita berasumsi (berpandangan) bawa potensi hanyalah nilai raport yang kita terima atau kemampuan menjawab soal dikelas, sehingga ketika kita tidak mampu menjawab pertanyaan yang diajukan seorang Guru  atau tidak mendapatkan Nilai yang Baik saat ujian kita sering kali dicap sebagai anak yang berpotensi rendah, dan sianak yang dicap berpotensi rendahpun menjadi anak yang apatis dan kehilangan kepercayaan diri untuk berbuat sesuatu karena sudah terlanjur dianggap tidak berpotensi atau berpotensi rendah. Sianakpun biasanya menjadi pasrah dan menerima nasib apa adanya tanpa adanya usaha dan upaya untuk merubah pandangan negatif orang lain terhadap dirinya dengan kata lain meningkatkan Potensi dirinya untuk menggapai prestasi sebaik-baiknya.

Allah SWT berfirman :
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya
(Q.S.An-Najm : 39)

Pada zaman Rasulullah SAW, begitu banyak contoh-contoh sahabat yang kita kenal hingga saat ini karena potensi masing-masing : Ingatlah Abu Bakar As-Shiddiq tangan dinginnya tidak hanya mengantarkan sahabat lainnya untuk memeluk Islam namun sepuluh diantaranya dijamin masuk Surga, Mush’ab bin Umair potensinya dalam berbicara mampu mengajak penduduk Madinah mengikuti Risalah Rasulullah sebelum Rasulullah Hijrah Ke Madinah, Ingat pula kepada Bilal potensi Indah suara azannya menggugah keimanan setiap yang mendengar dan bergegas memenuhi panggilan, Al-Miqdad bin Amru potensi kekhusyu’an Ibadahnya menyebabkan setiap do’anya di Ijabah oleh Allah, Abdurrahman bin Auf potensinya dalam perdagangan mengangkat martabat Kaum Muslimin sehingga tidak dianggap kaum yang kolot dan terbelakang, Amru bin Ash, Kholid bin Walid, Ali bin Abi Thalib dan sederet sahabat lainnya yang memiliki Potensi dan sadar akan Potensi yang mereka miliki, sehingga apa yang mereka lakukan terarah dan sesuai dengan potensi mereka masing-masing.

Untuk menyadari keberadaan potensi dalam diri kita bukanlah hal mudah namun bukan juga hal yang sulit, dalam buku Best Seller terbaru  Zero to Hero, Solikhin Abu Izzudin pengarang buku tersebut memberikan beberapa cara melihat Potensi diri :

Pertama : Muhasabah melihat diri kita melalui diri kita sendiri atau orang lain yang mampu melihatnya dan  memperbanyak berzikir dan memohon petunjuk Kepada Allah

Kedua : Ubah cara berfikir, berfikir positif untuk setiap hal

Ketiga : Tidak berputus Asa terhadap kegagalan Usaha yang kita lakukan

1. Muhasabah : dalam menyadari Potensi yang kita miliki, Muhasabah adalah faktor utama, Muhasabah atau membuka diri seluasnya-luasnya agar dapat dilihat isi yang ada dalam diri kita kadangkala tidak dapat dilakukan sendiri dan dibutuhkan media atau alat bantu yang dapat membantu kita melihat isi yang ada dalam diri kita, untuk melihat bentuk Kasar diri kita kita pastilah membutuhkan cermin, namun untuk mengetahui Potensi diri kita tak hanya cermin yang kita butuhkan namun media lainnya yang dapat mengungkap Potensi kita : Abdullah bin Ummi Maktum mampu menyadari Potensinya dan akhirnya Menjadi Mu’adzin terbaik setelah Bilal, Louis Braille si Buta yang mampu menyadari Potensinya dan akhirnya menjadi Penemu Huruf timbul yang disebut Huruf Braille, Albert Einstein dicap sebagai anak Autis sehingga sulit didik dan diajari sebuah Ilmu akhirnya menyadari Potensinya sehingga menjadi Ilmuan besar di Bidang Matematika.

Allah SWT berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S.Al-Hasyr : 18)

2. Ubah cara Berfikir : Tidak menganggap segala sesuatu yang menimpa dan menyusahkan kita saat ini adalah bencana yang selalu bernilai Negatif, bukankah sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik, atau sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk? Kalaulah demikian Mengapa kita tidak mengarahkan pandangan dan pikiran kita untuk memandang dan berfikir bahwa setiap sesuatu pasti ada sisi Positifnya ,

Allah SWT berfirman :
Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.(Q.S.Al-Insyirah : 5-6)
Ayat ini Allah Ulangi sebanyak dua kali dalam surah ini dan keduanya menggunakan kalimat Taukid atau penekanan, yang berarti setiap sisi Negatif pasti ada sisi positifnya.
Rasulullah SAW juga melarang kita untuk berfikiran Negatif, Rasulullah SAW bersabda :
Hindarilah Olehmu (Prasangka) berfikiran negatif, sesungguhnya (prasangka) fikiran Negatif  adalah sedusta-dusta Ucapan (H.R.Bukhori)

3. Tidak Berputus Asa : Tidak menyerah terhadap kegagalan yang dialami, karena kegagalan bukanlah akhir dari segalanya namun kegagalan adalah sebuah proses menggapai prestasi dan keberhasilan, Satu cara tidaklah cukup dibutuhkan banyak cara, banyak jalan, inovasi dan kreatifitas untuk mencapai keberhasilan ,

Allah SWT berfirman :
Dan Ya'qub berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain (Q.S.Yusuf :67)

Dalam buku Change Your Lens Change Your World karya Faiz H Seyal ada sebuah catatan tentang orang-orang besar yang pernah gagal : Lagu-lagu Elvis Presly selalu ditolak sebelum akhirnya menjadi Raja Pop dunia, Thomas Alfa Edison mengalami 2000 kali kegagalan sampai akhirnya berhasil Menemukan bola lampu, Walt Disney pengarang Tokoh Donal Bebek pernah dipecat dari sebuah Penerbitan Majalah hanya karena dianggap kurang gagasan, dalam dunia Islam juga banyak contok orang besar yang pernah mengalami kegagalan : Ibnu Hajar selalu gagal dalam belajar namun belajar dari batu sehingga mampu menghafal Ribuan Hadits, Ibnu Hajm pernah terbakar buku-bukunya namun tak berputus asa untuk kembali menulisnya, Fudhail bin Ihyad Seorang mantan Perampok tak berputus asa untuk memperbaiki diri dan terus belajar sehingga akhirnya menjadi Ulama Besar di Zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid dan sederet nama lainnya yang selalu memberi inspirasi kita untuk tidak berputus asa dari setiap kegagalan yang kita alami,

Allah SWT berfirman :
Hai anak-anakku, pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".(Q.S.Yusuf : 87)

Diakhir tulisan yang singkat ini penulis mengutip beberapa kalimat dari sebuah buku yang berjudul Born to Win (Lahir untuk menang) karya Promod Brata (200), buku ini mengatakan jika Manusia diberi umur untuk hidup hingga 70 tahun maka pembagian waktunya adalah sebagai berikut :
25 Tahun untuk Tidur
8 Tahun untuk Belajar
6 Tahun untuk Istirahat dan Sakit
7 Tahun untuk Liburan dan Rekreasi
5 Tahun untuk Komunikasi
4 Tahun untuk Makan
5 Tahun Untuk Transisi Kegiatan
12 Tahun untuk Bekerja

Jika demikian adanya maka Kapankah waktu untuk menggali Potensi kita? Semuanya tergantung kepada kita semakin cepat kita menyadari potensi yang ada pada diri kita semakin cepat pula prestasi akan kita raih, Melalui Muhasabah, Merubah cara berfikir menjadi Positif dan Tidak berputus asa, mudah-mudahan kita dapat mengetahui potensi dalam diri kita amin ya Rabbal ’Alamin.

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri (Q.S.Al-An’am : 59)


1 komentar:

  1. Potensi kadangkala seperti Seekor singa yg sedang tidur..harus d bangunkan agar mengaum menggetarkan seluruh hutan

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...