Muqaddimah

Alhamdulillah Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita hambaNya berbagai kenikmatan yang mustahil dapat dihitung jumlahnya. Shalawat dan Salam Atas Nabi Muhammad SAW, semoga kita diakui menjadi ummatnya dan mendapat syafa'at di hari kiamat insyaAllah. Inilah sisi lain dari Jihad, jihad yang digambarkan Al Quran dengan dua cara "Bil-Amwal" dan "Bil-Anfus". Mendedikasikan Waktu, tenaga, pikiran dan perasaan untuk menjalankan Dakwah dan Tarbiyah Islamiyah adalah bagian penting dari proses "Jihad" itu sendiri. Semoga Allah Meridho'i Niat dan Amal Perbuatan kita, tetap Istiqomah, Amanah seraya tidak melupakan Muhasabah di setiap detik dan kesempatan.
(Untuk Pendamping hidupku :Farida Shafwatun Nisa, dan Ketiga Permata hatiku :Faiq Afiful Azam, Wafa Zirwatul Husna & Wifa Zaniratul Haura)

Senin, 18 Februari 2013

STUDI TASAWUF

A. Pendahuluan.
Untuk melihat bagaimana tasawuf berasal dari dunia Islam, pelacakan terhadap sejarah munculnya tasawuf dapat dijadikan dasar argumentasi munculnya tasawuf di dunia Islam. Selama Rasulullah hidup hingga kekhalifahan Abu Bakar sampai Ali (599-661 M), selalu diadakan berbagai pertemuan yang menghasilkan sumpah atau janji setia dan praktik ibadah tasawuf.
Untuk melihat sejarah tasawuf, perlu dilihat dari perkembangan peradaban Islam sejak zaman Rasulullah. Sebab pada hakikatnya kehidupan rohani itu telah ada pada dirinya sebagai panutan umat. Dalam perjalanannya, benih-benih tasawuf mulai mengkristal dan mulai terlihat pada seorang tabiin yang bernama Hasan Al-Bashari benar- benar memperaktikkannya. Para ahli sejarah sepakat bahwa istilah tasawuf itu mulai muncul pada abad ke dua hijriah, yakni ketika orang-orang berusaha meluruskan jalan menuju ilahi dan kepada-Nya.
Dalam makalah ini penulis akan berupaya memberikan gambaran tentang :
Pengertian istilah – istilah kunci ; tasawuf, sufi, tariqat, sumber dan perkembangan pemikiran tasawuf, variasi praktek tasawuf dan pengkajiannya, pendekatan utama dalam kajian tasawuf, tokoh dan karya utama dalam kajian tasawuf.

B.  Pembahasan
1.  Pengertian Tasawuf, Sufi dan Tariqat
a. Pengertian Tasawuf
Arti Tasawuf dan asal katanya menjadi pertikaian ahli – ahli logot. Setengahnya berkata bahwa perkataan itu diambil dari perkataan shifa artinya suci bersih, ibarat kilat kaca. Kata mereka setengahnya dari perkataan shuf artinya bulu binatang, sebab orang – orang yang menjalankan tasawuf itu memakai baju dari bulu binatang, karena mereka benci pakaian yang indah – indah, pakaian “ Orang dunia “ ini. Dan menurut pendapat lain diambil dari kata shuffah ialah segolongan sahabat – sahabat Nabi yang menyisihkan diri di satu tempat terpencil disamping mesjid Nabi. Ada pula yang berpendapat dari perkataan Shufanah ialah sebangsa kayu yang mersik tumbuh dipadang pasir tanah Arab.  Tetapi setengah ahli bahasa dan riwayat, terutama di zaman  akhir ini ada yang mengatakan bahwa perkataan shufi  itu bukanlah bahasa Arab, tetapi bahasa Yunani lama yang telah di Arabkan. Asalnya theosofie artinya ilmu ketuhanan , kemudian diarabkan dan diucapkan dengan lidah orang Arab sehingga berubah menjadi Tasawuf. 
b. Pengertian Sufi
Kata Sufi berasal dari kata Suf yang artinya Wol tak berwarna, inilah sebagian pendapat mengartikannya, yang maksudnya dengan memakai jubah wol sang sufi akan menunjukkan niat – kesiapannya untuk meninggalkan dunia zahir     ( Realitas Sosial )  dan menyerahkan diri pada dunia batin ( Realitas Batin ).
c. Pengertian Tariqat
Tariqat diartikan para orang – orang sufi ialah suatu jalan yang ditempuh dalam  mendekatkan diri kepada Allah SWT, sedangkan tujuan akhir dari kaum sufi ialah mencapai penghayatan fana’ fi’llah ( al – fana’fi’il – haqqi ). Yaitu kesadaran leburnya diri mereka dalam samudra ilahi. Tarikat atau jalan tasawuf ini begitu penting hingga ilmu tasawuf itu sering dinamakan ilmu suluk .
Tarikat itu pada dasarnya tak terbatas jumlahnya, karena setiap manusia  semestinya  harus mencari dan merintis jalannya sendiri, sesuai bakat dan kemampuannya ataupun taraf kebersihan hati mereka masing – masing. Dalam kitab Makripat Gubahan Ihsanuddin dinukil ungkapan para sufi :
Jalan – jalan menuju Tuhan itu sebanyak bilangan bintang dilangit, atau sebanyak bilangan nafas manusia.
2. Sumber dan Perkembangan Pemikiran Tasawuf.
Ilmu tasawuf, yaitu salah satu ilmu yang tumbuh dan matang dalam zaman Daulah Abbasiyah. Ilmu tasawuf adalah ilmu syariat yang baru diciptakannya. Inti ajarannya: tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT , meninggalkan kesenangan dan perhiasan dunia dan bersunyi diri beribadah.
Ilmu tasawuf telah menanam pengaruh yang sangat berkesan dalam kebudayaaan Islam.
Perkembangan ilmu tasawuf dari abad kedua Hijriyah, telah mengalami perubahan – perubahan, sehingga dengan demikian kelihatannya tasawuf dalam zaman Abbasiyah I berbeda dengan tasawuf zaman Abbasiyah II atau III, dan demikian seterusnya.
Sesuai dengan perkembangan zaman maka perkembangan tasawuf tidak ketinggalan, ada pendapat yang mengelompokkan tasawuf itu sesuai dengan cara dan pehamannya, sehingga ada yang di sebut dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi dan tasawuf irfani.
Tasawuf akhlaqi adalah tasawuf yang berorientasi pada teori perilaku. Tasawuf jenis ini ada yang menyebutnya sebagai tasawuf yang banyak dikembangkan kaum salaf (salafi) 
Tasawuf falsafi muncul dari sejumlah sufi dengan latar belang falsafi. mereka dapat disebut filosof yang sufi atau sufi yang filosof. Tasawuf mereka tidak disebut dengan tasawuf sunni, tetapi tasawuf falsafi, yang dapat dipahami sebagai tasawuf yang kaya dengan pandangan – pandangan falsafi atau banyak dimasuki oleh pandangan – pandangan falsafi.
Sebagai sebuah ilmu irfan memiliki dua aspek, yakni aspek praktis dan aspek teoritis. Aspek praktis irfan adalah bagian yang menjelaskan hubungan dan pertanggung jawaban manusia terhadap dirinya, dunia dan Tuhan. Sebagai ilmu praktis ini menyerupai etika. Irfani teoritis berkaitan dengan penjelasan tentang wujud, yakni tentang Tuhan, alam semesta dan manusia.  
Tasawuf adalah salah satu aliran filsafat Islam, yang maksudnya bermula ialah hendak zuhud dari dunia yang fana. Tetapi lantaran banyaknya bercampur gaul dengan negeri dan bangsa lain, banyak sedikitnya masuk jugalah pengaruh agama dari  bangsa lain itu kedalamnya.
Karena tasawuf bukanlah agama, melainkan suatu ikhtiar yang setengahnya diizinkan oleh agama dan setengahnya pula dengan tidak sadar, telah tergelincir dari agama, atau terasa enaknya pengajaran agama lain dan terikut dengan tidak sengaja.
Ibnu Khaldun berkata :
“ Tasawuf itu adalah semacam ilmu syariah yang timbul kemudian di dalam agama. Asalnya ialah bertekun beribadat dan memutuskan pertalian dengan sengala selain Allah, hanya megharap Allah semata. Menolak hiasan – hiasan dunia, serta benci perkara – perkara yang selalu mendaya orang banyak, kelezatan harta benda, dan kemegahan. Dan menyadari menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadat !” 
Tasawuf sebagai suatu ilmu yang telah berkembang semenjak pertengahan abad Kedua Hijriah hingga dewasa ini tentu mengembangkan terminologi atau bahasa khusus yang hanya bisa dimengerti dalam kaitannya dengan ajaran dan penghayatan para sufi. Misalnya istilah “ syariat ” bagi para sufi pengertiannya selalu dihubungkan dengan istilah  “ hakikat”. Maka menurut kacamata para sufi syariat hanya diberi makna sebatas tingkah laku lahiriah menurut aturan – aturan formal dari pada agama. Jadi , laku batin seperti kekhusukan jiwa dalam ibadah dan rasa dekat dengan tuhan dalam shalat beserta etika itu tidak dimasukkan dalam istilah syariat. Oleh karena itu, Imam al – Qusyairi misalnya dalam risalahnya mengatakan.
Maka setiap syariah yang tidak didukung oleh hakikat tidak akan diterima. Dan setiap hakikat yang tak terkait dengan syariat  tentu tidak ada hasilnya. Syariah dalam pengertian para sufi tidak termasuk laku batin. Laku batin itu khusus milik orang sufi.

3. Variasi praktek tasawuf dan pengkajiannya.
Menurut Sofyan  Tsauri “ seseorang benar – benar dalam zuhud kalau ia telah dapat merasakan ajalnya telah dekat tidak memakan yang enak – enak dan tidak pula memakai pakaian yang mewah – mewah” kemuliaan seseorang dapat dilihat dalam  lima bentuk : Pertama , seorang alim yang hidup zuhud.  Kedua, seorang Fakih tetap juga sufi. Ketiga, seorang hartawan yang merendahkan diri. Keempat seorang Fakir yang selalu mensyukuri nikmat Allah dan kelima, seorang bangsawan yang selalu melaksanakan sunnahnya.
Al - Hasan Al – Basri, selalu memesankan agar manusia waspada terhadap dunia, karena dunia seperti ular, lembut sentuhannya dan mematikan bisanya. Berpalinglah dari pesonanya dan waspadalah.
Ma`ruf Al – Karkhi, selalu memperingatkan agar kita jangan meninggalkan amal, karena amal itu mendekatkan manusia kepada tuhan. Karena sebagaimana ia jelaskan “ Apabila Allah menghendaki seseorang hamba menjadi baik maka dibukakannya  pintu amal dan ditutupnya pintu pertengkaran”. Menginginkan sorga tanpa amal adalah satu dosa diantara dosa, menunggu safaat tanpa sebab  adalah sebagian dari tipu daya dan mengharapkan rahmat tanpa taat adalah satu kebodohan. 
K.H  Mas Mansur berkata :
“ 80 % didikan Islam kepada keakhiratan dan 20 % kepada keduniaan. Tetapi kita telah lupa mementingkan yang tinggal 20 % lagi itu sehingga kita menjadi hina.”
Sayid Rasyid Ridha  berkata ketika memberi syarah akan hadis :
“ Zuhud lah kepada dunia supaya Allah cinta kepadamu dan zuhud pulalah terhadap kepada yang ditangan manusia, supaya manusia pun suka kepadamu.
Ketika setelah memberi syarah hadis itu, Imam Nawawi telah menyalinkan perkataan Imam Syafi`i yang berkata tentang mencari harta dunia demikian :
“ Menuntut berlebih harta benda, walaupun pada yang halal, adalah siksa yang diberikan Allah kepada hati orang yang mukmin.”
Maka kata Sayid Rasyid Ridha :
“ Perkataan itu jauh dari kebenaran. Sebab meminta tambahan harta yang halal itu tidaklah haram, tidaklah siksa. Kalau sekiranya meminta tambah yang halal itu haram , dan siksa pula, mengapa dia dihalalkan ?.Dan bukan pula dia makruh. Jatuh hukum haramnya ialah jika harta yang halal menjadi tangga untuk mencapai yang haram, dan dimakruhkan jika menyebabkan perbuatan tercela. Sahabat – sahabat yang besar, demikian juga ulama – ulama Tabi`in dan beberapa orang yang saleh – saleh ialah orang kaya raya yang mempunyai harta benda lebih dari pada yang perlu. Sehingga menjadi pertikaian faham diantara ulama – ulama, maka yang utama disisi Allah, seorang kaya syukur dengan seorang fakir yang sabar. Adapun berlebih – lebihan memasukkan rasa kebencian terhadap harta kekayaan dunia itu kedalam hati sanubari, adalah salah satu sebab kelemahan kaum muslimin dan salah satu sebab mereka dapat dikalahkan oleh musuhnya.Kesenangan yang menyebabkan sombong dan lalai dari melakukan kewajiban atau menyebabkan suka kepada haram.”
Junaid  berkata :
“ Keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji.” Dengan kata “Modern”, kita tegakkan kembali maksud dari tasawuf, yaitu membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi, menekankan segala kelobaan dan kerakusan memerangi syahwat yang terlebih dari keperluan untuk kesentosaan diri. 
Dalam ajaran tasawuf atau kebatinan imam Al – Ghazali menjelaskan bahwa Zat Tuhan itu sebenarnya terang benderang. Hanya karena terlalu terang maka tak tertangkap oleh mata manusia. Mata manusialah yang tak mampu menagkap cahaya Zat tuhan seperti halnya kelelawar tidak bisa atau tidak kuat menagkap cahaya matahari, sehingga dikatakann ghaib. Karena itu kalau ingin mengenal langsung atau menangkap nur tuhan harus dengan mata hati atau kalbu.
Ajaran Dasar Tasawuf Syeh Muda Ahmad Arifin :
Hati memegang peranan penting bagi manusia. Baik dan buruknya seseorang ditentukan oleh hatinya. Demikianlah pentingnya peranan hati bagi manusia, oleh sebab itu manusia wajib menjaga kesucian hatinya. Adapun yang menjadi penyebab kotornya hati manusia itu adalah disebabkan berbagai penyakit yang terdapat padanya sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah :
 Artinya :  dalam hati mereka ada penyakit  ( Q.S Al baqoroh : 10 )

Menurut Syeh Ahmad Arifin terdapat 6666 ayat Al – Qur`an dan 6666 urat didalam tubuh manusia, demikian halnya dengan hati manusia, ada 6666 penyakit dalam diri manusia.  Dari sekian banyak penyakit yang ada di dalam diri manusia, ada beberapa penyakit hati yang paling berbahaya, diantaranya : hawa nafsu, cinta dunia, loba, tamak, rakus, pemarah, pengiri, dendam, hasad, munafiq, ria, ujub, takabbur. Jadi bila tidak diobati, maka sambungan ayat mengatakan : 
lalu ditambah Allah penyakitnya ( Q.S Al – Baqorah : 10 )

Demikian bahayanya apabila manusia itu tidak segera membersihkan hatinya, maka Allah akan  terus menambah penyakitnya. Oleh sebab itu kewajiban pertama sekali adalah terlebih dahulu ia harus mensucikan hatinya.
Ada tiga kewajiban yang dibebankan oleh allah kepada manusia:
a. Kewajiban mensucikan hati.
Hati yang bersih yaitu tidak ada didalam hati itu selain Allah. Artinya seseorang yang disebut hatinya bersih adalah orang yang senantiasa selalu mengingat Allah. Satu – satunya cara membersihkan hati yaitu dengan mempelajari ilmu hati. Ilmu hati ini lajim disebut dengan beberapa nama diantaranya : ilmu batin, ilmu hakikat, dan ilmu tarikat.
b. Kewajiban mengingat Allah.
Kewajiban yang kedua yaitu mengingat Allah , sebab musyahil kita dapat mengingat Allah kalau kita belum mengenalnya dan mustahil kita dapat mengenal Allah  kalau kita belum pernah berjumpa. Dan mustahil kita dapat berjumpa dengan Allah tanpa terlebih dahulu menyertakan diri  dan belajar kepada orang yang telah dapat beserta Allah.
c. Kewajiban mengerjakan Shalat.
Shalat merupakan tiang agama yang dilaksanakan apabila kita telah melaksanakan kewajiban pertama dan kedua, sebab tujuan shalat adalah untuk mengingat Nya. Sebagaimana firman Allah :  Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku.
   
4. Pendekatan utama dalam kajian tasawuf.
Agama Islam adalah agama yang menyeru umatnya untuk mencari rezeki dan menggalakkan umat mencapai kemuliaan, ketinggian dan keagungan diantara bangsa – bangsa lain. Bahkan agama Islam mnyeru umatnya menjadi yang dipertuan di dalam alam dengan dasar keadilan, memungut kebaikan dimanapun juga bersua, dan memperbolehkan mengambil peluang mencari kesenangan yang diizinkan.
Tasawuf pada mula – mula timbulnya adalah suci maksudnya, yaitu hendak memperbaiki budi pekerti, ketika mula – mula timbul itu semua orang bisa menjadi sufi, tidak perlu memakai pakaian yang tertentu, atau bendera yang tertentu, atau berkhalwat sekian hari lamanya dalam kamar, atau megadu keninng dengan kening guru.
Di zaman Nabi Muhammad Saw hidup, semua orang menjadi “ sufi” yaitu sufi sepanjang artian Junaid. Baik nabi dan sahabatnya yang bertempat, atau yang beribu – ribu itu, semuanya berakhlak tingggi, berbudi mulia, sanggup menderita lapar dan haus, dan jika mereka boleh kekayaan, tidaklah kekayaan itu lekat didalam hatinya, sehingga dia tidak merasa sedih bila harta itu habis.   
Menurut Al – Ghazali setiap sufi yang ingin mendapatkan penghayatan ma`rifat pada Tuhan sementara waktu untuk menempuh jalan menuju Tuhan harus sanggup membelakangi dunia secara keseluruhan, karena makrifat pada tuhan tidak bisa dimadu dengan dunia. Fatwa ini didasari suatu hadis sewaktu emas belum diharamkan bagi pria, pernah suatu waktu nabi membuang cincin emas ditengah – tengah khutbah beliau. Sesudah turun dari mimbar menjawab pertanyaan hal itu dilakukan karena cincin itu mengganggu konsentrasi ibadah khotbah beliau. Atas dasar hadis diatas Al – Ghazali menegaskan bahwa tidak mungkin hati hati manuusia bersih dari ikatan atau belenggu dunia selama dunia itu masih melekat dibadannya. Hal itu ibarat orang mandi dalam madu kok berharap lalat tidak akan hinggap pada badannya, itu tidak mungkin. Al – Ghazali sendiri memberi contoh sewaktu melaksanakan tasawuf beliau mengasingkan diri pergi menyamar selama sepuluh tahun., kemudian kembali kekampungmya memberi pelajaran. Upaya pemutusan ikatan keduniaan ini dimulai dengan pengalaman maqam taubat. Dalam ajaran tasawuf konsep taubat dikembangkan dan mendapat berbagai macam pengertian. Namun yang membedakan antara taubat dan syariat biasa dengan maqam taubat dalam tasawuf diperdalam dan dibedakan antara taubatnnya orang awam dengan taubatnya orang khawas. Dalam hal ini Dzu al – Nun an – Mishri mengatakan :
“Taubatnya orang – orang   awam taubat dari dosa – dosa, taubatnya orang khawas taubat dari ghaflah (lalai mengingat tuhan).
Bagi para pemula (novice) ditekankan (Repentance) dari perbuatan – perbuatan dosa.dalam hal ini Raynold A. Nicholson mengatakan sebagaimana termuat dalam buku Tasawuf dan Perkembangannya yang dikutif oleh Simuh.       
Repentance is described as the awakening of the soul from the slumber of beedlessness, so that the sinner becomes aware of his evil ways and feels contrition for past disobedience. He is not truly penitent, however, unless (1) he at once abandons the sin or sins of which he is conscious, and (2) firmly resolves that he will never return  to these sins in the future. It he should fail to keep his now, he must again turn to god, whose mercy is infinity. A certain well – known  sufi repented seventy times and fell back into sin seventy times before he made a lasting repetance.
Taubat dilukiskan sebagai kebangunan jiwa dari ketidak pedulian, sehingga yang berdosa menyadari akan kesalahan jalan yang ditempuhnya dan menyesali ketidakpatuhan yang telah dilakukan. Penyesalan itu belum dibenarkan jika (1) dia tidak menghentikan seketika perbuatan dosa – dosa yang telah disadarinya dan (2) berjanji tidak akan mengulang berbuat dosa lagi. Bila dia gagal memenuhi sumpahnya, dia harus minta ampun pada tuhan lagi yang rahmatnya tidak terhingga. Seorang sufi yang terkena bertaubat 70 kali dan kembali berdosa juga 70 kali sebelum dia bertaubat yang terakhir kalinya. 
Tasawuf sumbernya dari Al – qur`an dan hadis, ayat al qur`an diantaranya surat Al _ Ahzab ayat 48 
dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.
Sikap percaya pada Tuhan, dan menjadikannya sebagai satu – satunya pelindung, banyak lagi didapat dalam Al – Quran . 
Ingatlah wahai saudaraku, sedapat mungkin engkau hendaklah memelihara amalmu dengan baik. Perhatikanlah waktu karena padanya ada yang dikalahkan oleh keburukan, dan sedikit didalam kegembiraan, banyak padanya kesusahan dan keruwetan. Sedikit padanya barokah. Karena itulah seyogianya bagi seorang yang berakal agar sadar terhadap dirinya dan merasa khawatir didalam perkaranyadan berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan segala kemungkinan demi menolak bahaya yang turun kepada makhluknya. 
Untuk mendekatkan pemahaman manusia akan keyakinan yang dimilikinya terhadap sesuatu kekuatan yang menguasai dirinya, yakni Tuhan , maka manusia oleh sang Maha Pencipta ( Allah SWT ) diberi hati dan akal untuk membimbingnya kepada jalan kebaikan. Kemudian , Allah SWT. Menurunkan Al kitab, yakni Al -  Qur`an yang diberikan kepada Rasulnya Muhammad Saw untuk dijadikan pedoman hidup dalam menuntun manusia untuk mempercayai akan adanya kekuatan yang Maha Dahsyat yang menciptakan dirinya, yaitu Allah SWT. Sehingga manusia tidak menjadi sombong akan eksistensi dirinya dari mana ia berasal dan akan kemana ia akan dikembalikan.    
5. Tokoh dan karya utama dalam kajian tasawuf.
Dibawah ini kami jelaskan tokoh – tokoh yang dikenal dalam kajian Tasawuf.
a. Tasawuf Akhlaki, tokoh tasawuf yang terkenal diantaranya :
1)  Hasan Al – Basri.
Hasan al – Basri, nama lengkapnya adalah al – Hasan bin al – Hasan Abu Sa`id. Kemashuran Hasan Al – Basri dalam hidup kerohanian telah menjadi perbincangan dalam kitab – kitab tasawuf,  seperti ; Qut al Qulub, karya Abu Thalib al – Makki, Tabaqat al – Kubra,  karya asy sya` rani, Hilya al – auliya karya abu nu`aim dan lain – lain.
2)  Al – Muhasibi
Nama lengkapnya ialah Abu Abdillah al – Haris bin asad al – Basri al – Muhasibi. 
Ajaran – ajaran dan tulisan – tulisannya memberikan pengaruh yang kuat dan luas kepada ahli – ahli sufi sesudahnya, khususnya kepada Abu Hamid al – Gazali, diantara kitab nya adalah kitab Al -  Ri`ayah li Ruquq ql – Insan.
3)  Al – Qusyairi
Nama lengkapnya adalah `Abd al – Karim bin Hawazin al – Qusyairi. Karya tulis al – Qusyairi yang terkenal adalah Risalah al – Qusyairiyyah fi` Ilm at – Tasawufi.
4)  Al – Gazali
Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin ahmad al – Tusi al – Syafi`i dan lebih dikenal dengan nama Al – Gazali. Diantara karyanya yang populer adalah ; al – Munqiz min ad – Dalal; Tahaful al – Falasifah; al – Iqtishad fi al – I`tiqad; al – Wajiz; Ihya `ulum ad – Din; Minhaj al - `Abidin; Mizan al - `Amal; Kimiya as – Sa`adah; Misykat al – Anwar; al – Risalah al - Laudiniyah; Bidayah al – Hidayah; al – Adab fi ad – Din; Raudah at Talibin wa umdah as – Salikin dan Kitab Arbain.

b. Tasawuf Irfani, Tokohnya yang terkenal diantaranya :
1)  Rabiah al – Adawiyah
Nama lengkaapnya adalah Ummul Khair bin Ismail al Adawiyah al – Qisysyiyah, ajaran – ajarannya yang masih dikenal khususnya tantang al – hubb alillahi dan Mahabbah.
2)  Zun al Misri
Nama lengkapnya adalah Abu al – Fa`id Sauban bin Ibrahim Zun- Nun al – Misri. Jasa yang yang ppaling besar dari padanya adalah ajarannya yang menetapkan keharsan melewati maqamat dan ahwal dalam perjalanan menuju ma`rifah.
3)  Al – Junaid.
Nama lengkapnya adalah Abu Qasim al – Junaid bin Muhammad al Khazzaz al – nihwandi. Junaid dikenal orang yang banyak membahas tentang tauhid, pendapat – pendapatnya banyak diriwayatkan dalam kitab – kitab biografi para sufi.
4)  Al – Hallaj.
Nama lengkapnya adalah Abu al – Mugis al Husein ibn Mansur ibn Muhammad al – Baidawi dan lebih dikenal dengan al – Halaj. Karya dan buku karangannya adalah; al – Ahruf al – Muhaddash wa al – Azaliiyyah wa al - Asma` al – Kulliyah; kitab al – Usul wa al – Furu`; kitab Sirr al - `Alam wa al – Mab`us; kitab al – adl wa at – Tauhid; kitab `Ilmu Baqa`wa al fana; kitab mad an – Nabi wa Masal al A`la ; kitab Huwa – huwa; dan at Tawasin.
5)  Al – Bustami.
 Nama lengkapnya adalah Abu Yazid bin Isa bin Syurusan al – Bustami. Pahamnya yang terkenal adalah paham al – fana, dan al – baqa` serta sekaligus  pencetus paham al – Ittihad.

c. Tasawuf Falsafi, Tokohnya yang terkenal diantaranya:
1)  Ibn `Arabi.
Andalusi.buku dan karyanya yang dikenal diantaranya Fusus al Hikam.yang berisi tentang tajalli ddan tanazzul zat Tuhan.
2)  Al – Jili.
Nama lengkapnya adalah `Abd al – Karim bin Ibrahim al – Jili. Adapun kitab yang paling terkenal yang menggambarkan ajaran tasawuf khusunyya tentang konsep al – insan al – kamil fi ma`rifah al – awakhir wa al – Awail.
3)  Ibnu Sab`in.
Nama lengkapnya adalah abd al haq ibn Ibrahim ibn nashr al – Akki al – Mursi. Adapun kitab yang ditulisnya yang merupakan karyanya adalah; Budd al - `Arif; al Kalam `alaal – Masail as – Shaqliyah; Risalah an – Nashihah atau an – Nuriyah; `Abd ibn Sab`in; ar – Risalah al – Faqiriyqh; Rasail ibn sab`in; jawab Shahih  Shiqiliyah.

d. Tasawuf di Indonesia, Tokohnya yang terkenal adalah:
1) Al – Raniri.
Nama lengkapnya adalah Nur ad – Din Muhammad bin `Ali bin Hasanji al Hamid asy Syafi`i al – Asy`ari al – Ayydarusi ar – Raniri. Ia adalah seorang tokoh ulama yang produktif ada sekitar 30 judul buku hasil karyanya diantaranya : at – Tabiyan fi ma`rifah al – adyan fi at – Tasawwuf; Jawahir al Ulum fi Kasyf al – Ma`lum; Syifa` al – Qulub an at – Tasawwuf dan llainnya.
2) Hamka.
Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Diantara buku karyanya yang dikenal adalah; Tasawuf modrn; Falsafah hidup; Tafsir Al – Azhar juz I – XXX, dan lainnya.
3) Harun Nasution.
Adapun pemikirannya berkenaan dengan tasawuf atau sufisme, ia mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan sufisme adalah ajaran – ajaran tenttang berada sedekat muugkin pada Tuhan. Disamping itu karya tulisnya yang terkenal adalah; Islam ditinjau dari Berbagai aspeknya; Filsafat Agama; Akal dan wahyu dalam Islam, dan lainnya.
4) Nurcholish Majid.
Adapun pemikirannnya dalam bidang sufistik, dapat ditelaah dari pelbagai karya tulisnya dalam pemikiran sufistik Nurcholish majid, dapat dilihat dalam urainnnya tentang taqwa; tawakkal; ikhlas; taubat; syukur; harapan ; sabar; khauf; uzlah; dan takdir.
5) Jalaluddin Rakhmat
Adapun karya tulis Jalaluddin Rakhmat yang bermanfaat bagi orang banyak hingga saat ini antara lain; Renungan – renungan sufistik; membuka tirai kegaiban; Reformasi Sufistik dan yang lainnya.

III. PENUTUP
Dalam berusaha menerapkan citra ketuhanan, sang sufi menemukan bahwa langkah pertama adalah memaafkan semua orang lain   yang ia kira telah berbuat salah kepadanya. `maafkan musuh anda` menjadi arahan spritual yang lebih kuat dari pada memikirkan dan menyiapkan balas dendam. Selanjutnya hendaklah kita memperdalam makna dari zuhud yang dibuktikan dengan mewaspadai akan godaan dunia yang pana, serta senantiasa mengamalkan akan apa yang menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita yakin dengan sepenuhnya bahwa dunia ini hanyalah sandiwara yang dapat memperdaya manusia untuk lupa akan urusan akhirat, sedangkan kita yakin bahwa akhirat adalah alam yang terakhir bagi kehidupan untuk mendapatkan kebahagian yang tiada bandingannya yang kita alami didunia ini.
Mudah – mudahan makalah yang singkat ini dapat bermanfaat bagi kita semua terkhusus bagi pemakalah sendiri.
Akhirnya penulis berharap akan adanya saran dan kritikan dari pembaca demi melengkapi dan penyempurnaan dari makalah ini....................... Amin.



DAFTAR PUSTAKA

Aresteh, A. Reza , Sufisme dan Penyempurnaan diri : Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, cet. Ke 2, 2002
Al Habib Muhammad bin Abdullah bin Syiah Al Idrus, Terj. H. Abd.
Hadi Basiulthah, Bertasuf Menuju Tagharrub : Bandung, Husaini Bandung, 199
Departemen Agama RI, Al Qur`an dan Terjemahnya : Semarang, Asy – Syifa`, 1998
Fazlur Rachman, Islam : Jakarta, Bumi Aksara, 1992
Hamka, Tasawuf Modern : Jakarta, Pustaka Panjimas cet ke I, 1996
Hitti, Philip K, Histori of the Arabs terj.R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Selamat
Mansur,M. Laily , Ajaran dan Teladan para sufi : Jakarta, Srigunting, 2002
Muzakkir, Studi Tasawuf : Bandung, Citapustaka Media Perintis, 2009
Nasri, Sayyid Husein, Tasawuf dulu Dan Sekarang : Jakarta, Pustaka Firdaus, cet. Ke 3, 1994
Riyadi : Anggota Ikapi, PT. Serambi Ilmu Semesta, cet. Ke 1, 2002
Saifuddin, Pemikiran Tasawuf Syeh Muda Ahmad Arifin, Sufi Pemurni tauhid abad XXI: Jakarta, Hijri Pustaka Utama cet. Ke 2, 2007
Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam : Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, cet. Ke 2, 2002























       

   
        
       












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...